SLEMAN, RADAR JOGJA - Dampak kemarau panjang tahun ini cukup terasa di kabupaten Sleman. Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sudah mendistribusikan ratusan ribu air bersih ke beberapa wilayah terdampak.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, sejak tanggal 14 Agustus hingga 9 Oktober 2023. Pihaknya sudah melakukan droping air bersih sebanyak 719 ribu liter ke empat kapanewon.
Bambang merinci, untuk kapanewon terdampak kekeringan ada di Tempel meliputi padukuhan Jambean, Tangisan, dan Plambongan di kalurahan Banyurejo dengan total droping air bersih 47 ribu liter. Lalu Puskesmas Tempel 1 yang masuk kalurahan Margorejo sebanyak 15 ribu liter.
Kemudian kapanewon Pakem di kalurahan Hargobinangun meliputi padukuhan Kaliurang Timur sebanyak 549 ribu liter, Kaliurang Barat 96 liter, dan SMP N 2 Pakem 5.000 liter.
Kapanewon Moyudan ada di padukuhan Sejati, Sumberarum ditanggulangi dengan pengambilan air dari Sungai Progo.
Baca Juga: Tips Aman Mendahului Pengendara Lain Ala Honda Istimewa
Sementara padukuhan Nulisan, Sumberagung, Moyudan dilakukan dropping air bersih sebanyak 8.000 liter.
"Kemudian untuk hari ini rencananya akan ada distribusi HU (Hidran Umum) dari BP2W sebanyak satu unit di Puskesmas Ngaglik II," ujar Bambang, Selasa (10/10/2023).
Selain mencatat jumlah air bersih yang didistribusikan, BPBD Sleman juga menghitung jumlah jiwa yang terdampak kekeringan. Selama kurun waktu hampir dua bulan berlangsungnya kemarau, sedikitnya ada 243 kepala keluarga (KK) dengan 1.184 jiwa yang kesulitan air bersih.
Bambang menyatakan, terkait dengan penanggulangan kekeringan di kabupaten Sleman pihaknya juga mendapatkan bantuan dari pihak swasta. Khususnya dalam upaya membantu droping air bersih ke wilayah yang membutuhkan bantuan air bersih.
Baca Juga: Pendaftaran IKD Baru 5,37 Persen karena Warga Tak Familiar
"Kami juga punya (anggaran) siaga darurat kekeringan," katanya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono menyampaikan, wilayah DIJ diprediksi akan menghadapi musim kemarau hingga akhir bulan Oktober. Dibandingkan dengan tahun lalu, musim kemarau tahun ini memang lebih lama.
Karena di tahun 2022 puncak musim kemarau di Jogjakarta terjadi pada bulan Juli-Agustus dan di bulan September sudah mulai turun hujan. Sehingga ia pun meminta, agar masyarakat mulai memanen air apabila terjadi hujan.
"Kami menghimbau kepada masyarakat untuk memanen hujan karena ada peluang, bisa dipanen atau ditampung untuk menghadapi kemarau yang masih panjang," himbau Warjono. (inu)
Editor : Bahana.