Salah seorang anak pasangan almarhum Mbah Maridjan dan alhamarhumah Mbah Ponirah, Suraksohargo Asihono, menuturkan ibunya meninggal di kediamannya di kompleks hunian tetap Karang Kendal, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.
Juru Kunci Merapi ini menuturkan jenazah almarhumah Ponirah dimakamkan di Sasonoloyo Padukuhan Srunen, Glagaharjo, Sleman. Ponirah dikebumikan berdekatan dengan makam Mbah Marijan.
"Itu wasiatnya ibu. Wasiatnya kalau nanti saya meninggal, nanti aku dikuburkan di dekatnya bapak," jelas Mas Asih, sapaannya, Senin (1/5).
Mas Asih menuturkan ibunya meninggalkan 5 anak dan 13 cucu. Menurutnya, Ponirah merupakan sosok yang dikenal sederhana. Ibunya juga tak pernah membedakan perlakuan dan kasih sayang antar anak dan cucu.
"Simbok itu begitu. Momong anak putu. Tidak membedakan, itu anak maupun cucu," katanya.
Asih merupakan anak keempat Mbah Marijan dan Ponirah dari 5 bersaudara. Dia diberi amanah oleh Sri Sultan Hamengku Bawono KA 10 untuk menjadi juru kunci Merapi. Tanggungjawab ini melanjutkan tugas sang ayah usai wafat pada 2010 lalu.
Sementara itu, Rejo Diyono, adik sepupu Mbah Marijan mengatakan Ponirah merupakan sosok yang setia dan sederhana. Selama Mbah Marijan menjadi juru kunci Gunung Merapi, Ponirah selalu setia mendampingi. Meski kini anak-anaknya telah berkecukupan, hidupnya masih tetap sederhana.
"Sosoknya biasa saja, sederhana. Mbakyuku itu manusia biasa. Uripnya sederhana. Anak-anaknya (sukses) menjadi pegawai. Si Asih sekarang menggantikan Mbah Marijan. Si Panut sekarang berjualan di petilasan Kinahrejo. Yang lain, ada juga yang (tinggal) di Jakarta," ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News