Project Leader Zero TB Jogjakarta Rina Triasih menjelaskan program mobile screening dilakukan dalam rangka jemput bola untuk menemukan suspek TB. Targetnya, pada 2025 nanti angka TB di Indonesia bisa berkurang sebanyak 50 persen. Lalu 2030 diharapkan telah terjadi eliminasi TB di Indonesia.
"Dari konsep yang diusung oleh Zero TB Jogjakarta, kami mempunyai kegiatan yang inovatif untuk penemuan pasien secara aktif dengan menggunakan mobil rontgen. Dengan ini kami bisa melakukan skrining mendekat ke masyarakat yang tidak bisa ke puskesmas," jelasnya saat ditemui di Kantor Kapanewon Ngemplak, Senin (5/9).
Rina menambahkan proses yang dalam mobil skrining adalah proses rontgen. Pada pembacaan hasil rontgen telah digunakan teknologi Artificial Intelegent (AI). Fungsinya mendeteksi para peserta skrining merupakan suspek TBC atau bukan.
Dalam satu hari, mobil skrining dapat memeriksa hingga 200 orang. Tentunya efektif dalam mendeteksi sebaran tuberkulosis. Sasarannya hingga tingkat desa bahkan padukuhan.
"Nanti kalau dari rontgennya itu terbaca dicurigai atau diduga ada TB nya, akan kami lakukan pemeriksaan dengan dahak untuk memastikan dia positif atau tidak," katanya.
Rina mengakui jemput bola ini memakan lebih banyak biaya. Jika dibandingkan dengan menunggu pasien yang inisiatif memeriksakan diri ke puskesmas. Meski demikian, cara ini dinilai lebih efektif untuk menemukan pasien dalam jumlah yang lebih banyak.
Dia memaparkan missing cases di Indonesia yang mencapai 40 persen. Ini karena upaya skrinning belumlah optimal. Dia berharap nantinya Kementerian Kesehatan RI dapat mengadopsi inovasi mobil skrining TBC ini di seluruh Indonesia.
"Harapannya seperti itu, kita sedang mempromosikan. Pak Menteri Kesehatan tahun ini di Kabupaten Kulon Progo juga sudah mengunjungi melihat ini secara langsung," harapnya.
Pada kesempatan yang sama Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo juga turut melakukan rontgen di dalam mobil skrining. Hasilnya, Kustini dinyatakan sehat dan bebas dari paparan virus TB.
Dia mengatakan saat ini pihaknya berkolaborasi dengan para pemangku wilayah. Fokusnya untuk memetakan masyarakat yang tersuspek TB. Dia juga berharap target penurunan TB pada tahun 2025 dan eliminasi TB pada 2030 dapat tercapai.
"Harapan saya dengan adanya Zero TB nanti kita mengetahui kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Kami punya kader-kader. Di situ ada panewu, lurah, di sana kan nanti tau kira-kira masyarakatnya yang potensi TBC itu siapa, bisa kelihatan," katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News