Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tombak Kyai Turunsih Dijamas, Bersihkan Secara Fisik dan Non Fisik

Editor News • Sabtu, 13 Agustus 2022 | 13:22 WIB
SAKRAL : Prosesi jamasan Tombak
SAKRAL : Prosesi jamasan Tombak
RADAR JOGJA - Pusaka milik Kabupaten Sleman berupa Tombak Kyai Turunsih dijamas di kompleks Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (12/8). Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan suro.

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Kabupaten Sleman Kanjeng Mas Tumenggung Dwijo menjelaskan jamasan ini bertujuan untuk membersihkan Tombak Kyai Turunsih secara fisik dan non fisik. Diantaranya menghilangkan karat dan kotoran yang ada di tombak tersebut.

"Menghilangkan aura-aura negatif dari Kanjeng Kyai Turunsih. Ini supaya tetap menjadi positif. Menjadi berkat bagi masyarakat Sleman sesuai dengan pamornya, beras wutah. Menjadi kemakmuran bagi warga sekitar Sleman," jelasnya saat ditemui di kompleks Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (12/8).

Dwijo menjelaskan, tombak dijamas dengan menggunakan air khusus. Diantaranya air kembang setaman, minyak cendana, air jarah, dan air jeruk nipis. Tombak lantas dibersihkan dengan menggunakan kuas.

"Dibersihkan dengan ritual khusus sesuai dengan aturan dari Keraton Jogja. Kebiasaan adat dari Keraton," katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Edy Winarya mengatakan tombak ini merupakan piandel atau kekuatan. Diberikan secara khusus oleh Raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10.

Dalam sehari-hari, pusaka ini disimpan di ruang Sekda Pemkab Sleman. Tombak ini memiliki pamor beras wutah. Melalui prosesi jamasan ini diharapkan dapat memberikan pengaruh yang baik bagi seluruh warga Kabupaten Sleman.

"Tombak Kyai Turunsih itu pamornya adalah beras wutah. Ini kan memiliki aura di Sleman, surplus. Mengenai itu secara kebetulan apa itu ada pengaruhnya, yang jelas pamor beras wutah itu menjadikan Sleman ini akan makmur di kemudian hari," ujarnya.

Sementara itu, songsong atau payung pada tombak memiliki filosofi memayungi masyarakat Sleman. Edy mengatakan ini menjadi agenda budaya yang dilaksanakan setiap tahun.

"Setiap tahun menjadi kegiatan budaya. Untuk merawat supaya tidak dikikis oleh hal-hal yang nanti merusak tombak itu sendiri," katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News
#pusaka Kabupaten Sleman #Jamasan Pusaka #Tombak kyai Turunsih #bulan suro