Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hadi Tjahjanto Sebut Konflik Agraria Tak Ada Habisnya

Editor Content • Sabtu, 30 Juli 2022 | 17:26 WIB
BERI ARAHAN: Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Hadi Tjahjanto saat memberikan arahan kepada civitas akademika di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Jogjakarta kemarin (29/7).(WULAN YANUARWATI/RADAR JOGJA)
BERI ARAHAN: Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Hadi Tjahjanto saat memberikan arahan kepada civitas akademika di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Jogjakarta kemarin (29/7).(WULAN YANUARWATI/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Hadi Tjahjanto mengakui permasalahan tanah tidak pernah ada habisnya. Terlebih karena adanya mafia tanah, serta penyerobotan tanah. “Hingga adanya tumpang tindih karena memang aturan pada waktu itu," sebut Hadi di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Jogjakarta kemarin (29/7).

Menurutnya, permasalahan tanah berawal dari desa. Oleh sebab itu, pemerintah harus sudah mulai berfikir tentang sumber daya manusia (SDM) lulusan bidang pertanahan untuk di suatu desa. "Permasalahan-permasalahan saat ini semuanya bisa diselesaikan dengan keilmuan. Kita bukan zaman pokoke, bukan zaman yang penting selesai. Tidak. Kita harus berdasarkan ilmu dan hukum," tegasnya.

Di sisi lain, tantangan terbesar yang harus dihadapi ialah menyelesaikan program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL). Dari 126 juta bidang tanah di Indonesia, baru terealisasi kurang lebih 80 juta bidang. Oleh karena itu, perlunya transformasi yang harus dilakukan untuk mengurai permasalahan agraria. Dengan meningkatkan kualitas SDM dan transformasi digital. Melalui transformasi digital, akan memudahkan untuk melihat status tanah pada suatu wilayah. Dari bidang miring, status lahan dilindungi atau tidak, hingga status pajak tanah. "Semuanya bisa dilihat di-display. Transformasi digital sangat dibutuhkan," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Jogjakarta Senthot Sudirman mengatakan, upaya untuk melahirkan SDM pertanahan unggul adalah dengan menerjunkan langsung mahasiswa ke lapangan melalui pemberdayaan. "Biasanya tiga bulan untuk ditaruh di kantor-kantor pertanahan. Apa gunanya, gunanya untuk mendidik (karena langsung melihat permasalahan di lapangan, Red)," jelasnya. (lan/eno) Editor : Editor Content
#STPN #ATR