Ketua panitia kegiatan Ervin Wijayanti menjelaskan, festival diikuti oleh 60 peserta. Dengan masing-masing kapanewon, mendelegasikan 30 peserta. Selain mengikuti bazar, KWT turut mempromosikan produk pertanian. Serta mengikuti lomba kreasi olahan makanan berbahan dasar ubi.
Lomba tersebut, lanjutnya, sebagai pemicu agar masyarakat lebih bersemangat dalam mengkreasikan produk KWT. Sehingga dapat meningkatkan nilai tawar. Jika semula dijual sebagai bahan baku, kini diolah dengan produk kemasan dan berdaya saing. Terlebih saat ini, KWT bukan hanya menanam dan memelihara. Namun, mereka dituntut untuk menghasilkan produk berkolaborasi dengan pariwisata, kalurahan, dan perangkatnya. "Untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal," tuturnya Minggu (5/6).
Dengan berbagai inovasi, KWT diharapkan semakin berkembang dan mandiri. Andil dalam pengelolaan pertumbuhan wisata di masing-masing kapanewon. Ada beragam jenis kreativitas olahan makanan, tetapi ada juga yang menciptakan potensi kerajinan. Karena sebagian KWT,merangkap sebagai usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dikatakan, KWT dalam menciptakan produksi sudah lama dilakukan bahkan saat ini didorong untuk mengajukan sertifikat produksi pangan industri rumah tangga (SPP-IRT). "Bahkan sebagian sudah punya (izin PIRT, Red)," kata dia.
Diceritakan pada saat pandemi, usaha KWTdi Moyudan turut terdampak. Sehingga produk-produk olahan makanan saat itu sulit terjual. Kendati demikian sejak situasi pandemi mulai landai serta aturan dilonggarkan, produksi KWT mulai bergeliat kembali. "Kalau dihitung-hitung, kenaikkannya sudah sekitar 50 persen," tuturnya.
Panewu Moyudan Harso Wasono menyebut, adanya festival ini sebagai pendukung menggelorakan kembali kolaborasi pariwisata dan pertanian. Sebelumnya, pameran produk UMKM dan KWT pernah digelar di masing-masing kapanewon.Hanya saja, kali ini disinergikan. Mengingat Moyudan dan Minggir secara potensi memiliki kemiripan. Sebagian besar menjadi lumbung pangan. Sebagian besar masih area pertanian. "Untuk itu melalui sinergi ini diharapkan mampu mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat di masing-masing kapanewon," ujarnya.
Festival ini sekaligus memperkenalkan destinasi wisata baru di Wana Rahayu.Sebagai salah satu ikon di Sleman barat dalam rangka pengembangan pariwisata. Berbagai event pun turut digelar di lokasi ini. Antara lain senam masal, lomba olahan makanan hasil produk pertanian, serta pentas seni dan budaya. "Bukan hanya festival, Wana Rahayu ini juga dikelola oleh perempuan, ibu rumah tangga maupun KWT setempat," tandasnya. (mel/eno) Editor : Editor Content