Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman Joko Paromo menuturkan penurunan okupansi sangat drastis. Sejak pertengahan September 2021 perhotelan di wilayah Sleman mulai menggeliat hingga 90 persen. Angka ini anjlok drastis menjadi 40 persen pasca PPKM Level 3 berlaku kembali.
“Tingkat hunian hotel mulai September sudah menggeliat mulai bagus. Ada berita PPKM beberapa grup membatalkan. Melihat situasi kondisi ini otomatis batal, okupansi menurun. Tingkat hunian hotel yang sudah mencapai 70 persen sekarang turun jadi 40 persen,” jelas Joko saat ditemui di Hotel Royal Darmo Malioboro, Senin (14/2).
Dia berharap PPKM Level 3 kali ini tidak memberikan dampak yang berlarut-larut bagi sektor pariwisata. Aturan pembatasan pengunjung juga diminta tak diberlakukan. Hal ini karena sektor perhotelan sudah mulai menggeliat.
Berlakunya PPKM Level 3, menurutnya tak hanya berdampak pada perhotelan. Jangka panjang juga akan berdampak ke sektor pendukung. Mulai dari restoran, tour guide, UMKM hingga sektor transportasi.
“Pengelola hotel sudah diimbaui mengaktifkan Satgas Covid-19. Nantinya, Satgas Covid-19 yang ada di hotel diminta untuk berkoordinasi dengan satgas kewilayahan jika ditemui ada pengunjung yang positif terpapar Covid-19,” katanya.
Joko memaparkan seluruh hotel di Sleman telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Tak hanya itu, seluruh karyawan hotel sudah tervaksin dua dosis. Dia optimis sektor pariwisata tak akan terpuruk jika pelaksanaan prokes diketatkan dan vaksinasi terus digalakkan.
“Kalau saat ini yang saya amati prokes rata-rata sudah dijalankan. Karyawan juga sudah vaksin baik yang satu, dua, ataupun booster ini sudah mulai. Rata-rata sudah melakukan prokes,” ujar Joko. (isa/dwi) Editor : Editor News