Juru Kunci Gunung Merapi Mas Wedana Surakso Hargo mengaku terpaksa mengambil keputusan ini. Pembatasan terkait kondisi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Selain itu juga potensi bahaya pasca Merapi berstatus Siaga atau Level III.
"Kalau proses labuhan masih sama dengan tahun kemarin 2020, tidak ada perbedaan. Hanya saja kondisi pandemi ditambah status Merapi masih Siaga maka peserta kirab dibatasi," jelasnya ditemui di Petilasan Mbah Maridjan, Senin pagi (15/3).
Persiapan labuhan berlangsung sejak Minggu pagi (14/3). Diawali pengiriman uba rampe dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke Kantor Kapanewon Depok. Untuk kemudian dikirimkan ke Kantor Kapanewon Cangkringan di hari yang sama. Lalu diinapkan di petilasan Mbah Maridjan di Kinahrejo Kalurahan Umbulharjo.
Beberapa isi uba rampe meliputi sinjang limar, sinjang cangkring, semekan gadhung, semekan gadhung melati hingga paningset udaraga. Masing-masing berjumlah 1 buah yang ditempatkan dalam kotak bertutupkan kain merah. Seluruhnya dibawa ke bangsal Srimanganti.
Wujud penerapan protokol kesehatan juga terlihat dalam labuhan Merapi kali ini. Mulai dari tidak diinginkannya warga ikut serta. Hingga para abdi dalem yang menggunakan masker selama prosesi labuhan berlangsung.
"Karena memang kondisinya seperti ini maka labuhan berlangsung sederhana. Yang boleh naik hanya yang punya ID card. Hanya 30 abdi dalem dan pendamping dari unsur TNI, Polri dan SAR," katanya.
Labuhan Merapi Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan peringatan rutin tahunan. Kali ini merayakan 32 tahun bertahtanya sang Raja. Selain di Gunung Merapi, labuhan juga berlangsung di Pantai Parangkusumo Bantul dan Gunung Lawu Jawa Timur.
Terkait kondisi Merapi menjadi catatan tersendiri bagi para abdi dalem. Pria yang akrab disapa Mas Asih ini meminta peserta kirab lebih tenang. Terlebih jika mendengar suara dentuman selama berada di bangsal Srimanganti.
"Yang naik ini badannya sehat jasmani dan rohani. Mental juga harus kuat, di atas ada suara guguran lava jangan sampai disana bingung, ketakutan dan lain sebagainya. Nanti mengganggu jalannya prosesi labuhan, agar labuhan berjalan lancar," ujarnya.
Itulah mengapa peserta kirab labuhan Merapi lebih terseleksi. Diutamakan abdi dalem yang dalam kondisi sehat. Selain itu juga memiliki stamina yang bagus. Terlebih jalur menuju bangsal Srimanganti memang menanjak.
Rombongan kirab labuhan berangkat dari petilasan Mbah Maridjan pukul 06.40. Sisi depan dan belakang terdapat pendamping dari unsur TNI, Polri dan tim SAR. Setibanya di pertigaan Tugu Rudal, rombongan terlebih dahulu berhenti. Mas Asih kembali mengingatkan agar warga tak ikut naik ke pelataran Srimanganti.
"Mohon pengertiannya apabila tidak diperbolehkan karena kondisi kami mohon maaf. Kami tetap menjalankan protokol kesehatan sehingga tetap menjaga kesehatan semua," pesannya. (dwi/sky) Editor : Editor News