Penyembilahan Sapi tersebut dikatakan untuk memenuhi nazar atau janji Pengasuh Ponpes Ora Aji ini setelah calon Presidennya menang dalam kontestasi Pemilu beberapa waktu yang lalu.
“Kalau yang namanya nazar itu paling bagus disegerakan, jangan ditunda-tunda. Sengaja pelaksanaannya kami percepat tanpa menunggu real count dari KPU, karena sore ini saya harus bertolak ke Korea Selatan untuk memenuhi undangan disana,” ujarnya.
Rencananya, daging sapi yang total beratnya lebih dari 500 kg tersebut akan dibagikan kepada 600 warga baik santri pondok maupun warga sekitar.
Saat ditemui, ulama muda nyentrik ini menjelaskan makna dibalik dua ekor sapi yang ia sembelih. Bukan karena nomor dua, ataupun pilihan capresnya ada dua, ataupun yang lain melainkan makna utama dari dua kalimat syahadat yaitu saya bersaksi bahwa tiada Illah selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul (utusan) Allah.
”Juga merupakan wujud syukur kami, semoga dengan niat karena Allah, apa yang dilakukan hari ini sebagai tolak bala untuk bangsa Indonesia saat ini dan masa yang akan datang. Untuk dua periode juga,” candanya.
Pemilu itu hanya sebagai bagian dari rangkaian proses demokrasi , siapapun yang terpilih sudah ditakdirkan oleh Allah SWT di Lauhul Mahfudz, jadi kenapa harus diributkan.
“Mari tunggu, nggak usah nggege mongso euforia secara berlebihan, toh pada akhirnya yang benar akan kelihatan benar dan yang jelek kelihatan jelek,” ujarnya.
Dia menyarankan kepada warga masyarakat untuk saling menahan diri, tidak melakukan apapun hingga proses penghitungan selesai.
Ayah dari Atqy dan Mecca ini menambahkan, tugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sudah sangat berat, bahkan ada banyak dari mereka yang meninggal dunia. Hargai pejuang demoklrasi ini.
“Artinya apa, beri kesempatan mereka bekerja, jangan diintimidasi mengenai salah input dan sebagainya. Ya kalau ndak percaya silahkan hitung sendiri. Dan Jangan klaim dengan data yang tidak valid,” tegasnya.
Bagi pria penyuka degan ini menghargai sekaligus memberi kesempatan KPPS bekerja merupakan proses demokrasi yang harus dilakukan. “Bahkan mereka sampai kehilangan nyawa dengan bayaran yang tidak seberapa. Hargailah mereka paling tidak dengan bersabar,” ungkapnya. (naf/ila) Editor : Administrator