YOGI ISTI PUJIAJi, Sleman
Di tangan warga warga Karanggawang, Girikerto, Turi, bahan alami ini diolah untuk manfaat lain. Yakni nutrisi penyubur tanaman dan vitamin untuk tanah. Nutrisi ini dibuat juga berbahan utama gula aren.
Bahan nutrisi/vitamin disesuaikan masing-masing fungsi berdasarkan kebutuhan. Misalnya, pupuk, pakan ternak dan ikan, atau vitamin untuk kesehatan tubuh.Semuanya dicampur gula aren sebagai katalisator saat proses fermentasi. "Kami menyebutnya nutrisi hayati," jelas Winarta, salah seorang anggota kelompok tani terpadu Dusun Karanggawang.
Meski terkesan tradisional, anggota kelompok bekerja secara profesional, dengan pembagian tugas yang jelas. Dengan cekatan, Winarta merajang gula aren agar lebih mudah larut dalam air. Sementara, rekan-rekannya menyiapkan bahan lain.
Cara membuat nutrisi cukup simpel. Pertama, tentukan dulu jenis yang dibutuhkan. Misalnya untuk pupuk penyubur tanaman. Secara prinsip dibutuhkan bahan pengganti unsur phosphat dan Kalium Chlorida (KCl) dan Kalsium seperti yang terkandung dalam urea.
Untuk itu, Winarta memanfaatkan ikan lele atau kerang, dicampur jantung pisang. Dan tentu saja ditambah gula aren serta air. "Kerang sebagai pengganti kalsium, sedangkan lele bisa menggantikan urea. Jantung pisang untuk menetralkan zat kimiawi tanah," jelasnya.
Jika tidak ada lele bisa diganti mujahir atau nila. Bisa juga dengan tulang sapi muda. Sedangkan kerang bisa diganti cangkang telur. Semua bahan itu bisa berfungsi sebagai penetralisir Ph (tingkat keasaman) tanah. Sementara brotowali sebagai imun pengganti KCl tanaman. Jika tak ada brotowali bisa pakai buah maja.
Semua bahan dicampur dalam satu wadah berbahan stainless steel untuk difermentasi.
Perbandingan bahan 1:1:1. Yakni gula aren, air, dan bahan utama alami pengganti unsur kimia. Nah, dalam tahap inilah peran penting gula aren. Sebagai penyedot nutrisi yang terkandung pada bahan utama, pengurai, sekaligus menjadi makanan bagi mikroba.
Kemudian, wadah ditutup kertas plano. Proses fermentasi butuh waktu 7 x 24 jam agar semua bahan homogen, hanya bersisa cairan. "Itu untuk hasil terbaik. Kami pernah coba empat hari hasilnya kurang optimal. Jika terlalu lama, bahan bisa rusak," katanya.
Lalu, sambil menunjukkan bahan-bahan sampel, Winarta merinci kegunaan masing-masing. Dia lantas menunjuk brotowali. Bahan berasa pahit yang biasa untuk pencampur jamu peras mengandung unsur sejenis Kalium Chlorida (KCl). Selain brotowali, bisa juga dengan tulang sapi muda.
Mengingat semua bahan alami, Winarta mengklaim bahwa hasil fermentasi bisa dikonsumsi manusia. Hanya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat pembuatannya. Semua bahan harus dijaga tetap higienis dan menggunakan air matang. "Prinsip, semua bahan alami mengandung unsur hayati sehingga aman dikonsumsi manusia. Fungsinya sama dengan tumbuhan, sebagai nutrisi tubuh," papar Winarta.
Setelah tujuh hari, bahan disaring dan dikemas dalam botol. Bagi peminat yang tak mau repot membuat sendiri, kelompok tani Karanggawang menyediakan kemasan botol per liter seharga Rp 70 ribu.(*/din) Editor : Editor News