Mbah Bergas, Jejak Leluhur dan Tradisi Merti Desa yang Tetap Lestari di Seyegan

Rahmawati Wulandari • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 20:14 WIB
Mbah Bergas, Merti Desa, Seyegan, budaya Sleman, tradisi Jawa
Mbah Bergas, Merti Desa, Seyegan, budaya Sleman, tradisi Jawa

SLEMAN – Perkembangan zaman tak membuat masyarakat Kalurahan Margoagung, Kepanewon Seyegan, Sleman, melupakan tradisi leluhur. Salah satunya melalui Merti Desa Mbah Bergas yang hingga kini terus dilestarikan warga Padukuhan Ngino.

Tradisi tersebut bukan sekadar agenda budaya tahunan. Bagi masyarakat setempat, Merti Desa Mbah Bergas menjadi wujud rasa syukur sekaligus penghormatan kepada sosok Mbah Bergas yang dipercaya memiliki peran penting dalam sejarah terbentuknya wilayah Ngino.

Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, Mbah Bergas dikenal sebagai salah satu pengikut Sunan Kalijaga yang turut menyebarkan ajaran Islam di wilayah Ngino. Sosoknya kemudian menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan budaya masyarakat setempat.

Merti Desa Mbah Bergas biasanya dilaksanakan setiap Jumat Kliwon pada bulan Mei. Pada 2026, tradisi tersebut kembali digelar dengan melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan budaya. Salah satu rangkaian yang menarik perhatian adalah kirab dari kawasan Kalurahan Margoagung menuju Balai Ringin Dusun Ngino.

Baca Juga: Klaim Hemat Anggaran Pendidikan, Kebijakan Regrouping Sekolah di Kulon Progo Diwarnai Penolakan

Namun, Merti Desa tidak berhenti pada kirab. Warga juga menggelar kegiatan bersih desa, ziarah ke makam Mbah Bergas, doa bersama, hingga berbagai pertunjukan kesenian tradisional.

Sejumlah tempat yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan sejarah Mbah Bergas juga menjadi bagian penting dari tradisi. Di antaranya Pohon Beringin dan Sendang Planangan yang hingga kini masih dikenal dan dirawat masyarakat.

Kirab budaya menjadi salah satu momen yang paling semarak. Warga dari berbagai padukuhan ikut ambil bagian dengan membawa kesenian sekaligus menampilkan kreativitas masing-masing.

Pada pelaksanaan sebelumnya, kemeriahan kirab bahkan diikuti puluhan bregada. Berbagai kesenian tradisional seperti jathilan dan gedruk turut ditampilkan untuk menghidupkan suasana sepanjang rangkaian acara.

Bagi masyarakat Seyegan, Merti Desa Mbah Bergas memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perayaan. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat semangat gotong royong sekaligus memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.

Keberadaan situs-situs yang berkaitan dengan Mbah Bergas semakin memperkuat nilai sejarah dan budaya tradisi tersebut. Ringin Mbah Bergas serta Balai Ringin Mbah Bergas Ngino Seyegan menjadi bagian dari kawasan yang hingga sekarang masih lekat dengan kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, Merti Desa Mbah Bergas menjadi salah satu cara masyarakat Margoagung menjaga identitas budaya mereka. Melalui kirab, doa, ziarah, hingga pertunjukan kesenian tradisional, warisan leluhur terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga: Anak Kos Wajib Tahu! Ada Angkringan di Sleman, Nasi Bungkus Cuma Rp1.000

Tradisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan zaman tidak selalu harus menghapus jejak masa lalu. Justru melalui pelestarian budaya, masyarakat dapat terus mengenali akar sejarah sekaligus menjaga kebersamaan di tengah perubahan zaman.

 

Editor : Bahana.
Mbah Bergas budaya Sleman Seyegan merti desa Tradisi Jawa