Saat Paksi Band “Melawan” Pakem, Bikin Sastra Jawa tetap Bernapas: Mengolah Macapat dengan Kritik

Rizky Wahyu Arya Hutama • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:48 WIB
SAAT TAMPIL: Paksi Band saat tampil di acara Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 di Embung Giwangan, Kamis (27/8/2026) malam. Rizky Wahyu/Radar Jogja 
SAAT TAMPIL: Paksi Band saat tampil di acara Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 di Embung Giwangan, Kamis (27/8/2026) malam. Rizky Wahyu/Radar Jogja 

JOGJA - Di era modern saat ini, sastra daerah sering kali terpinggirkan. Lebih tragis lagi, lirik-lirik lagu berbahasa Jawa, tak jarang dipandang sebelah mata dan dianggap bukan bagian dari sastra oleh ekosistem sastra itu sendiri.

Stigma dan kungkungan pakem itulah yang membakar semangat Paksi Raras Alit, vokalis sekaligus pendiri Paksi Band, untuk mengambil jalur pembangkangan kreatif melalui karya musiknya.

 "Sastra daerah adalah sastra yang terpinggirkan, dan lirik lagu Jawa sering dianggap bukan sastra oleh sastra yang terpinggirkan itu sendiri. Padahal, ada celah besar untuk memodifikasi sastra Jawa seperti halnya sastra Indonesia dan sastra lainnya," ucap Paksi, Jumat (28/8/2026).

Baca Juga: 21 Ribu Warga Jogja Kehilangan PBI-JKN akibat Pergeseran Desil, Pemkot Siapkan Jamkesda

Perjalanan Paksi Band dalam mengacak-acak pakem tradisi tak lepas dari dorongan mendiang Djaduk Ferianto. Maestro seni tersebut kerap memprovokasi Paksi untuk berani memodifikasi sastra Jawa sebuah percikan ide yang menjadi fondasi berdirinya Paksi Band.

"Djaduk Ferianto selalu memprovokasi saya untuk memodifikasi sastra Jawa. Semangat itu-lah yang membangun Paksi Band," cetusnya.

Salah satu eksperimen berani yang dilakoni Paksi Band adalah merajut ulang tembang macapat dan musik keroncong. Meski melakukan pembaruan, Paksi menegaskan, langkah tersebut bukan bentuk perusakan akar budaya, melainkan upaya menjaga agar sastra Jawa tetap bernapas di zaman milenial.

Baca Juga: Di DIY Ada 12 Risiko Bencana, Penyandang Disabilitas Alami Kerentanan Berlapis saat Hadapi Bencana

Penulisan lirik, tetap mematuhi kaidah dasar tanpa menjebol akar kebudayaan. Lirik yang diubah pun dijamin juga dapat dipertanggungjawabkan secara ejaan bahasa Jawa dan tetap mengindahkan purwakanthi (persamaan bunyi).

Namun, untuk menghadapi tantangan lirik keroncong klasik yang cenderung puitis-romantis, Paksi Band menyiasatinya dengan balutan parikan jenaka.

"Kami bisa saja memainkan sastra Jawa yang adiluhung itu. Tapi kebetulan semangat saya adalah melawan. Pembaruan selalu dianggap pembangkang, padahal ini kami lakukan demi penyegaran lagu keroncong dan lirik berbahasa Jawa," bebernya.

Paksi mengungkapkan, sebenarnya bentuk perlawanan tidak hanya mewujud pada struktur nada, tetapi juga pada muatan pesan. Jika sastra Jawa di era kerajaan cenderung dekat dengan kekuasaan, Paksi Band memanfaatkan iklim kebebasan era modern untuk melontarkan kritik sosial yang tajam.

Baca Juga: Desil Naik, Gubernur DIY HB X Minta Solusi Berpihak: Bantuan Jangan Terputus

Hal itu dibuktikan lewat lagu bertajuk Ora Obah Ora Mamah yang dikemas secara lugas dan kritis. Bagi Paksi Band, keberanian menembus batas ini adalah satu-satunya cara agar sastra dan lagu berbahasa Jawa tetap relevan serta memiliki daya hidup di tengah gempuran zaman.

"Kini jaman sudah bebas maka kami berani memasukkan kritik," jelasnya. (ayu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Paksi Band Bernapas Melawan pakem sastra jawa kritik sosial