Selamat Jalan Yayoi Kusama, Mengenang Karya Polkadot Ikoniknya yang Mendunia

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:07 WIB
Yayoi Kusama dan salah satu karyanya dalam Pameran Life is the Heart of a Rainbow di Gallery of Modern Art pada 2018. (Foto: Kolase wikipedia)
Yayoi Kusama dan salah satu karyanya dalam Pameran Life is the Heart of a Rainbow di Gallery of Modern Art pada 2018. (Foto: Kolase wikipedia)

 

 


RADAR JOGJA - Dunia seni baru saja kehilangan salah satu figur yang paling ikonik.

Yayoi Kusama, seniman asal Jepang yang identik dengan pola polkadot dan instalasi cermin tak berujung, meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026, di usia 97 tahun.

Kabar duka ini diumumkan resmi lewat situs webnya, pada Kamis (27/8/2026), tanpa menyebutkan penyebab kematian secara spesifik.

Baca Juga: Drawing Lengkap Liga Champions 2026/27, Awal Berat bagi Juara Bertahan PSG

Perjalanan Seni Yayoi hingga Temukan "Identitas" dalam Karya

Motif polkadot yang jadi identitas Kusama sepanjang kariernya bukan sekadar pilihan estetika, melainkan lahir dari pengalaman traumatis masa kecilnya.


Sejak usia sekitar 10 tahun, Kusama mulai mengalami halusinasi vivid, melihat pola bintik-bintik dan jaring yang seolah menelan segala sesuatu di sekitarnya.

Termasuk kerikil-kerikil di tepi sungai dekat rumah masa kecilnya di Matsumoto, Nagano.

Alih-alih menghindarinya, Kusama justru mulai memasukkan visi-visi itu ke dalam lukisannya sejak masih anak-anak.

Baca Juga: Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Endro Sulaksono Dorong PKJ Jadi Gerakan Karakter Utuh

Meski keluarganya sendiri, terutama sang ibu, menentang keras minatnya pada seni.


Dalam memoarnya berjudul Infinity Net (2002), Kusama menulis: satu-satunya cara meredakan rasa sakit, kecemasan, dan ketakutannya adalah dengan terus berkarya.


Sejak 1977, Kusama memilih tinggal secara sukarela di sebuah fasilitas psikiatri di Tokyo yang tak jauh dari studio pribadinya.

Ia terus menetap di sana hingga akhir hayatnya.
Ia tidak menyembunyikan kondisi kesehatan mentalnya, bahkan secara terbuka menyebut karyanya sebagai "obat seni" (art medicine).

Baca Juga: Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Endro Sulaksono Dorong PKJ Jadi Gerakan Karakter Utuh


Beberapa karya berikut yang membuat nama Yayoi Kusama abadi di dunia seni internasional:


1. Infinity Mirror Rooms: instalasi ruangan penuh cermin yang menciptakan ilusi pantulan tak berujung, mulai dikembangkan sejak 1965 dan jadi karya paling ikonik yang menarik jutaan pengunjung ke berbagai museum dunia.


2. Mirror Room (Pumpkin): instalasi ruang cermin berisi patung labu bertitik-titik khasnya, ditampilkan mewakili Jepang di Venice Biennale 1993.


3. Patung dan instalasi labu raksasa bertitik-titik: motif yang jadi identitas visual kedua Kusama setelah polkadot, sering ditampilkan di ruang publik dan taman museum di berbagai negara.


4. Rangkaian lukisan "My Eternal Soul": seri lukisan yang terus ia kerjakan hingga usia senja, menunjukkan produktivitasnya yang tak surut meski usianya sudah sangat lanjut.

Baca Juga: Anggota Komisi D DPRD Kota Jogja Nurcahyo Nugroho Perjuangkan Masyarakat Miskin Dapat Bantuan


Popularitasnya bahkan terus menanjak di usia senja. Pameran retrospektif Kusama di National Gallery of Victoria, Melbourne (2024), tercatat sebagai pameran paling banyak dikunjungi sepanjang sejarah Australia. Dikunjungi lebih dari 500 ribu orang hingga April 2025.


Awal 2026, Museum Ludwig di Cologne, Jerman, juga menggelar pameran besar menampilkan lebih dari 300 karyanya untuk merayakan ulang tahun ke-50 museum tersebut.


Perjalanan Kusama membuktikan bahwa karya seni bisa lahir dari titik paling rapuh dalam hidup seseorang. Lalu dari situlah sesuatu yang universal dan dicintai jutaan orang di seluruh dunia bisa tercipta. 




Editor : Meitika Candra Lantiva
Yayoi Kusama pola polkadot perjalanan seni Yayoi Seniman Jepang Yayoi Kusama meninggal Seniman Jepang