Misteri Kyai Kanjeng Sekati, Gamelan Pusaka Keraton yang Hanya Ditabuh Setahun Sekali

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:34 WIB
Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Di balik kemeriahan perayaan Sekaten yang digelar saban tahun di Keraton Yogyakarta dan Surakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, terdapat satu elemen sakral yang menjadi inti dari seluruh rangkaian ritual tersebut.

Elemen itu adalah penabuhan seperangkat gamelan pusaka istimewa yang dikenal dengan nama Gamelan Kyai Kanjeng Sekati.

Tidak seperti gamelan keraton pada umumnya yang dapat dimainkan untuk mengiringi tarian atau pertunjukan seni kapan saja, perangkat instrumen bernilai sejarah tinggi ini memiliki aturan adat yang sangat ketat. Ia hanya dikeluarkan dari ruang simpan pusaka keraton dan ditabuh secara intensif selama satu minggu penuh dalam setahun.

Sejarah mencatat bahwa keberadaan Gamelan Kyai Kanjeng Sekati tidak lepas dari kearifan strategi dakwah Wali Sanga pada abad ke-15, khususnya gagasan kreatif Sunan Kalijaga di era Kesultanan Demak.

Baca Juga: Minta Izin Gubernur DIY, BSN Berencana Buka UPT di Yogyakarta

Pada masa itu, nada dan irama gamelan yang khas dimanfaatkan sebagai media pemikat agar masyarakat Jawa yang gemar akan kesenian sudi berkumpul di halaman masjid.

Setelah masyarakat berkumpul menikmati alunan musiknya, para ulama lantas menyampaikan syiar Islam dan membimbing mereka mengikrarkan dua kalimat syahadat yang di kemudian hari menjadi asal-usul penamaan tradisi Sekaten itu sendiri.

Masing-masing keraton memiliki pasangannya sendiri yang sangat dihormati, seperti pasangan Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagavilaga di Keraton Yogyakarta, serta Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari di Keraton Surakarta.

Keunikan fisik dan akustik gamelan ini terletak pada ukurannya yang lebih besar serta bilah-bilah perunggu yang lebih tebal dibandingkan gamelan Jawa standar.

Karakter struktur ini menghasilkan gema dentangan yang sangat dalam, berat, dan berwibawa, seolah membawa suasana magis dan syahdu yang mampu menembus ruang dan waktu bagi siapa saja yang mendengarkannya dari kejauhan.

Prosesi penabuhan pusaka ini juga sarat akan ketentuan adat yang mutlak dipatuhi oleh para abdi dalem niyaga. Gamelan mulai ditabuh sejak dipindahkan ke Bangsal Pagongan di pelataran Masjid Gedhe Keraton hingga menjelang hari puncak Grebeg Maulud.

Terdapat satu aturan sakral di mana seluruh instrumen harus diistirahatkan total pada Kamis malam hingga Jumat siang sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu ibadah utama umat Islam.

Gendhing-gendhing yang dimainkan pun bukanlah lagu sembarangan, melainkan racikan komposisi khusus seperti Gendhing Rambu, Rangkung, dan Gati yang memuat pesan perenungan spiritual yang mendalam.

Baca Juga: Sempat Padam, Karhutla Gunung Arjuno-Welirang Kembali Membara, Helikopter Water Bombing Dikerahkan 

Bagi masyarakat luas, tradisi mendengarkan dentangan Kyai Kanjeng Sekati bukan sekadar menikmati seni musik klasik, melainkan sarana introspeksi diri dan permohonan keberkahan hidup.

Alunan nadanya yang hanya bergema seminggu dalam setahun seolah menjadi pengingat ritmis akan pentingnya rasa syukur, penyerahan diri kepada Sang Pencipta, serta kelestarian warisan akulturasi budaya Nusantara yang tak ternilai harganya.

Kebudayaan ini mengajarkan betapa indahnya perpaduan antara nilai keagamaan dan tradisi lokal yang terus hidup menjaga identitas kebangsaan hingga saat ini.

Alfiani Hidayatul Choiriyah

Editor : Bahana.
Kyai Kanjeng Sekati budaya jawa Keraton Yogyakarta gamelan pusaka sekaten