Halaman rumah di Dusun Susukan, Sukorejo, Tegalrejo, Kabupaten Magelang menjadi panggung kesenian. Sejumlah sanggar tari unjuk gigi menampilkan atraksi budaya. Mereka turut merayakan Hari Peradaban Desa yang menghadirkan kritik tentang kondisi sosial melalui tema 'Makin Goblok Bareng'.
Kegiatan ini digagas oleh Komunitas Lima Gunung dan diperingati saban 21 Mei. Jika sebelumnya perayaan tersebar di berbagai sanggar, kali ini kegiatan dipusatkan di satu dusun sebagai titik temu sekaligus ruang belajar bersama.
Ketua panitia, Handoko menjelaskan, pemilihan dusun sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Desa, menurutnya, menjadi ruang paling nyata untuk membaca kondisi peradaban hari ini.
"Ini memang dusun, tapi kita ingin menjadikannya ruang belajar kelas dunia. Dari sini kita bisa melihat dan merasakan langsung bagaimana budaya itu hidup," ujarnya, Kamis (21/5).
Perayaan ini melibatkan sekitar 250 seniman dan penari dari berbagai komunitas kampung. Dua sanggar utama yang tampil adalah Sanggar Dhom Sunthil dan Sekar Wahyu Manunggal.
Sementara tokoh-tokoh Komunitas Lima Gunung dari berbagai daerah turut hadir atau merayakan di tempat masing-masing. Namun, yang menjadi inti perhelatan bukanlah jumlah penampil atau kemeriahan acara, melainkan pesan yang dibawa.
Baca Juga: Keren! Skor SPM Pendidikan Kota Jogja Peringkat Pertama se-Indonesia, Ini Kata Hasto Wardoyo
Tema Makin Goblok Bareng digunakan sebagai bentuk sindiran terhadap kondisi masyarakat yang dinilai mengalami penurunan dalam aspek adab dan kesadaran sosial. Dia mencontohkan, perubahan sederhana yang kini jarang ditemui, seperti tata krama anak muda kepada orang yang lebih tua.
"Hal kecil seperti 'nuwun sewu' atau 'amit' itu sekarang sudah mulai hilang. Itu yang terlihat. Yang tidak terlihat jauh lebih banyak lagi," katanya.
Tema tersebut, lanjutnya, bukan dimaksudkan untuk merendahkan, tetapi sebagai ajakan untuk bercermin. Dia menilai, di tengah kemajuan zaman, masyarakat justru menghadapi tantangan serius dalam menjaga nilai-nilai dasar kehidupan sosial.
Handoko menyebut, dalam perayaan tersebut, seni menjadi medium utama untuk menyampaikan pesan. Selain pertunjukan tari, juga digelar ritual budaya dan pidato kebudayaan sebagai bentuk refleksi kolektif.
Ritual yang dilakukan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga menjadi doa bersama agar kehidupan masyarakat tetap damai di tengah berbagai dinamika sosial. Keterlibatan warga dusun menjadi bagian penting dari keseluruhan konsep.
Model perayaan seperti ini, menurut Handoko, diharapkan mampu menumbuhkan kembali kesadaran generasi muda terhadap pentingnya budaya lokal. Di tengah derasnya arus globalisasi, desa dinilai masih menyimpan nilai-nilai yang relevan untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
Presiden Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut menegaskan, Hari Peradaban Desa merupakan upaya untuk mengembalikan kesadaran bahwa desa adalah fondasi identitas bangsa. Desa tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga sumber nilai, etika, dan kebudayaan. (aya)
Editor : Heru Pratomo