Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kethuk Swarasa, Sihir Musik Kontemporer Berbasis Kerakyatan Menggema di Lereng Merapi Magelang

Rizky Wahyu Arya Hutama • Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:18 WIB
Anak-anak Sanggar Bangun Budaya saat menampilkan Kethuk Swarasa. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
Anak-anak Sanggar Bangun Budaya saat menampilkan Kethuk Swarasa. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)

 

MAGELANG - Alunan musik kontemporer berbasis kerakyatan menggema di lereng Gunung Merapi.

Bunyi besi dari instrumen bende berpadu magis dengan dentingan demung, saron, dan kempul khas gamelan Jawa seolah memiliki magnet yang magis bagi para penggemarnya. 

Dalam perayaan ulang tahun yang ke-15, Sanggar Bangun Budaya yang terletak di Dusun Sumber, Magelang menggelar pertunjukan ciamik komposisi musik yang bertajuk Kethuk Swarasa.

Baca Juga: Batuan Karang Purba Bantul Siap Uji Nyali Downhiller di Seri Perdana 76 Indonesian Downhill

Istimewanya, pementasan ini lahir dari tangan dingin anak-anak Dusun setempat yang berhasil lolos pendanaan bergengsi Dana Indonesi Raya dan LPDP dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Komposer muda sekaligus representasi anak Sanggar Bangun Budaya Silvester Ibnu Sadewa menjelaskan dalam pementasan ini pihaknya menyajikan lima karya komposisi musik.

Seluruhnya berangkat dari interpretasi kesenian kerakyatan, khususnya jathilan yang tumbuh subur di desanya.

"Saya mengambil medium bende, instrumen besi yang menjadi ciri khas kesenian campur. Saya tertarik mengeksplorasi material besinya, bukan perunggu. Lalu saya gabungkan dengan instrumen gamelan Jawa seperti demung, saron, dan kempul," jelasnya, Jumat (16/5) malam. 

Baca Juga: Eddie Howe Ungkap Anthony Gordon Akan Tinggalkan Newcastle United Ditengah Keterkaitan Arsenal dan Bayern Munich

Perpaduan yang dibuat anak-anak Sanggar Bangun Budaya itupun bukan tanpa makna.

Menurut Ibnu, instrumen-instrumen tersebut diaplikasikan sebagai manifestasi dari tajuk yang diusung. 

"Bende itu simbol dari suara, sedangkan gamelan Jawa adalah rasa. Maka lahirlah Kethuk Swarasa ini," cetusnya. 

Oleh karena itu, melalui lima komposisi tersebut, Ibnu ingin menawarkan sudut pandang baru, terutama bagi penonton awam yang belum akrab dengan musik komposisi kontemporer.

Mengingat karya tersebut terinspirasi dari dinamika keseharian di sanggar bersama teman-teman komunitas yang memiliki beragam isi kepala.

Baca Juga: Kaoru Mitoma Absen di Piala Dunia 2026, Hajime Moriyasu Panggil Takehiro Tomiyasu untuk Perkuat Jepang

"Keseharian kami punya banyak sudut pandang berbeda. Perbedaan itu saya alihwahanakan ke dalam musik, dan ternyata menjadi satu kekuatan yang hebat," tegasnya.

Ibnu juga berharap supaya karya Kethuk Swarasa ini tidak hanya berhenti sampai di sini saja.

Sebab ia memiliki mimpi agar karya tersebut bisa dipentaskan di berbagai wilayah yang ada di Indonesia. 

"Kami ingin memperlihatkan bahwa Magelang punya musik tradisi yang sangat kaya dan bisa diolah secara modern," lontarnya. 

Sementara, Pimpinan Sanggar Bangun Budaya, Untung Pribadi mengaku bersyukur atas terlaksananya konser ini.

Baca Juga: Cara Menyimpan Reels ke Galeri HP Paling Mudah

Sebab, baginya pementasan Kethuk Swarasa itu menjadi bukti tanggung jawab moral sanggar atas kepercayaan dan support yang diberikan oleh pihak kementerian melalui Dana Indonesia Raya dan LPDP.

Tak hanya itu, Untung juga menyebutkan jika momentum ulang tahun Sanggar Bangun Budaya yang ke-15 ini bisa menjadi tonggak sejarah baru.

Sebab, selama satu dekade setengah berdiri, karya-karya yang lahir dari sanggar ini lebih didominasi oleh seni tari.

"Malam ini kami mencoba membikin sebuah lompatan baru lewat karya komposisi musik dengan basic kerakyatan. Kami mencoba mengangkat musik rakyat yang sederhana menjadi sebuah komposisi yang modern dan kontemporer," ujarnya. 

Baca Juga: Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs Hamburger Bundesliga Sabtu 16 Mei 2026, Die Werkself Incar Finis di Empat Besar

Maka dari itu, Untung berharap supaya Sanggar Bangun Budaya ini tetap berjalan, maju, dan tidak hanya dikenal di lingkup nasional saja, tapi bisa juga tembus ke kancah internasional.

"Anak-anak di sini memang sangat gemar seni, jadi lebih gampang dieksplorasi dan diberi pelatihan," bebernya. 

Di sisi lain, Sesepuh Padhepokan Tjipta Boedaja, Sitras Anjilin mengatakan pementasan Kethuk Swarasa yang ditampilkan oleh anak-anak Sanggar Bangun Budaya itu merupakan buah dari proses yang jujur. Sehingga getarannya mampu menyentuh batin penonton.

"Kenapa menggetarkan? Karena itu adalah hasil dari sebuah proses. Hidup ini adalah proses, dan jika kita menghargainya, hasilnya pasti akan luar biasa," ucapnya. 

Baca Juga: Persis Solo vs Dewa United, Tekad Laskar Sambernyawa Jaga Asa untuk Lepas dari Ancaman Degradasi

Tak hanya itu, Sitras juga berpesan kepada generasi muda Sanggar Bangun Budaya agar tidak lekas berpuas diri.

Sebab menurutnya, kesenian memiliki tataran yang harus didalami lewat pembiasaan agar mencapai tingkat kematangan yang paripurna.

"Berkesenian itu sejatinya tidak sekadar melestarikan hal yang sudah ada, tetapi bagaimana kita mampu mengembangkannya," tandasnya. (ayu)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Kethuk Swarasa #Sanggar Bangun Budaya #Magelang #Budaya #Musik