RADAR JOGJA - Batik Parang menjadi salah satu motif batik paling terkenal dari Yogyakarta.
Corak khas motif miring menyerupai ombak laut bukan sekadar pola estetika, tetapi memiliki makna filosofis mendalam.
Yakni, simbol kehidupan yang sarat nilai spiritual dan moral bagi masyarakat Jawa.
Motif Parang berasal dari kata “pereng” yang berarti lereng atau kemiringan.
Garis-garis miring pada batik ini menggambarkan kekuatan, kesinambungan, dan semangat pantang menyerah, seperti ombak laut yang tidak pernah berhenti bergerak.
Filosofi ini menggambarkan karakter manusia yang harus teguh, berani, dan tidak mudah goyah dalam menghadapi tantangan hidup.
Sejarawan budaya Yogyakarta menyebut bahwa Batik Parang diciptakan pada masa Kerajaan Mataram dan menjadi salah satu motif larangan (larangan dikenakan oleh masyarakat biasa).
Baca Juga: Arne Slot Percaya Hugo Ekitike Akan Bangkit dan Kembali Lebih Kuat Setelah Cedera
Dahulu, motif ini hanya boleh dipakai oleh keluarga kerajaan karena dianggap melambangkan kewibawaan, kepemimpinan, dan tanggung jawab besar seorang raja.
Corak Batik Parang juga memiliki berbagai jenis, di antaranya Parang Rusak, Parang Barong, Parang Kusumo, dan Parang Slobog.
1. Parang Rusak melambangkan upaya manusia melawan kejahatan dan hawa nafsu.
2. Parang Kusumo berarti keharuman kehidupan yang tumbuh dari perjuangan.
3. Parang Barong, yang merupakan motif tertinggi, menjadi simbol kekuasaan dan kebesaran raja.
Baca Juga: Arab Saudi Pecat Herve Renard Dua Bulan Jelang Piala Dunia 2026 Bergulir, Siapa Penggantinya?
Keunikan lain dari Batik Parang khas Yogyakarta terletak pada komposisi warna sogan (coklat keemasan) yang khas dan proses pembuatannya yang rumit.
Pengrajin batik tulis biasanya memerlukan waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan selembar kain Parang karena setiap garis harus dibuat dengan ketelitian tinggi agar membentuk pola berulang sempurna secara diagonal.
Kini, meski sudah tidak lagi terbatas bagi kalangan bangsawan, Batik Parang tetap menjadi simbol kebanggaan masyarakat Yogyakarta.
Motif ini sering digunakan dalam acara kenegaraan, pernikahan adat Jawa, hingga busana modern yang tetap mempertahankan unsur tradisionalnya.
Keberadaan Batik Parang bukan hanya bukti kejayaan budaya Jawa, tetapi juga warisan tak ternilai yang mengajarkan nilai keteguhan, keberanian, dan kesetiaan terhadap jati diri bangsa. (Alya Amirul Khasanah)