MAGELANG - Pemkot Magelang kembali menegaskan upaya penguatan identitas kota melalui jalur kebudayaan. Di tengah dinamika sosial perkotaan, kebudayaan dinilai bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi perilaku dan cara hidup masyarakat hari ini.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menilai, pembangunan kota tidak cukup hanya berbasis fisik dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan pijakan nilai dan makna yang tumbuh dari kebudayaan.
Sehingga membutuhkan dialog yang mempertemukan pemerintah dengan pelaku budaya, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Menurutnya, dialog itu bukan seremoni, melainkan ruang untuk mengisi pikiran dan jiwa, agar mempunyai referensi baru dalam membangun kota. "Dari sini lahir kesepahaman dan kepercayaan," ujar Damar di Aula Cendekia, Disdikbud Kota Magelang, Jumat (30/1).
Damar menekankan, kebudayaan tidak hanya berbentuk kesenian atau tradisi, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari dan etika hidup bermasyarakat. Karena itu, penguatan kebudayaan harus menyentuh cara berpikir dan bertindak warga kota.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho menyebut, dialog budaya ini sebagai langkah konkret dalam menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Dia menegaskan, peran disdikbud kini tidak lagi terbatas pada pelestarian artefak atau pengelolaan museum. "Kami bukan hanya penjaga museum. Tugas kami adalah memfasilitasi perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan," jelas Nurwiyono.
Dia mengakui, secara wilayah Kota Magelang tergolong kecil. Namun dari sisi sejarah dan kebudayaan, kota ini memiliki kekayaan yang besar.
Tantangan ke depan, menurutnya, adalah bagaimana mengelola sepuluh objek pemajuan kebudayaan (OPK) yang dimiliki Kota Magelang agar tetap lestari sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.
Dia mencontohkan, seni pertunjukan, tradisi lisan, hingga naskah kuno, semuanya punya potensi menjadi penggerak ekonomi kreatif. "Tapi itu harus dilakukan tanpa menghilangkan nilai dan kesakralannya," terangnya.
Nurwiyono berharap, gagasan dan masukan dari para pelaku budaya, akademisi, serta narasumber dalam dialog tersebut dapat menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan kebudayaan yang lebih kontekstual dan berpihak pada ekosistem seni-budaya.
"Kami ingin Kota Magelang menjadi rumah bersama bagi seniman dan budayawan, dengan ekosistem yang harmonis dan humanis," bebernya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo