MUNGKID - Menjelang rencana penebangan pohon randu alas yang telah menjadi ikon Desa Tuksongo, Borobudur, sembilan seniman menggelar aksi melukis secara on the spot Minggu (11/1). Dengan kanvas, kertas, cat air, dan akrilik, mereka merekam keberadaan pohon tua tersebut melalui bahasa visual.
Sejak siang hari, sebagian seniman tampak larut mengamati detail retakan kulit kayu, cabang-cabang yang mulai mengering, hingga akar besar yang mencuat di permukaan tanah. Suasana melukis berlangsung hening. Hanya sesekali terdengar sapuan kuas dan percakapan lirih antarseniman.
Seniman asal Tuksongo sekaligus pemrakarsa kegiatan, Atmojo mengatakan, kegiatan melukis ini merupakan bentuk refleksi sekaligus respons seniman terhadap rencana penebangan pohon randu alas yang dijadwalkan berlangsung Senin (12/1).
"Kami sebagai seniman punya kepedulian, dan kami melihat ada nilai dokumentasi yang perlu disampaikan ke publik melalui karya," kata Atmojo di sela kegiatan.
Menurutnya, randu alas bukan sekadar pohon biasa. Berdasarkan informasi warga setempat, usia pohon itu diperkirakan telah melampaui 200 tahun. Pohon tersebut telah menjadi penanda ruang, legenda, sekaligus identitas kultural bagi warga Tuksongo dan Borobudur.
"Makanya kami sayang sekali kalau harus ditebang. Ini ikon luar biasa, bukan hanya untuk Tuksongo, tapi juga Borobudur dan Magelang," ujarnya.
Dia menyebut, Lapangan Randu Alas telah lama melekat di ingatan publik. Karena itu, dia sempat mengusulkan agar penebangan tidak dilakukan secara menyeluruh, melainkan menyisakan sebagian batang sebagai penanda sejarah.
Sembilan seniman yang terlibat berasal dari berbagai wilayah. Mulai dari Borobudur, Muntilan, Kota Magelang, hingga Jogja. Mereka menggunakan beragam media dan teknik. Seperti dari cat air, akrilik di atas kanvas, hingga kertas gambar. Namun, sebagian besar memilih akrilik dan akuarel untuk menangkap suasana lapangan dan ekspresi pohon randu alas.
Atmojo menambahkan, karya-karya yang dihasilkan dalam kegiatan ini rencananya akan dikumpulkan dan akan dipamerkan. Sebelum itu, para seniman akan merumuskan narasi kuratorial yang kuat, termasuk dokumentasi visual dan data sejarah randu alas.
“Kami ingin ini tidak hanya sekadar lukisan pohon, tapi ada deskripsi dan narasi legenda yang menyertainya," jelasnya.
Seorang seniman Wahudi mengaku, memaknai pohon randu alas sebagai makhluk hidup yang telah lama 'tersakiti' oleh perubahan zaman dan lingkungan sekitarnya. Dia melukis menggunakan teknik cat air dengan pendekatan ekspresif.
"Pohon itu puluhan bahkan ratusan tahun usianya. Pohon itu makhluk hidup, dia mendengar, merasakan," ujar Wahudi sambil menuntaskan sapuan warna pada karyanya.
Menurutnya, pembangunan dan aktivitas manusia di sekitar pohon turut mempercepat kerusakan. Bangunan yang berdiri terlalu dekat, kebiasaan membakar sampah, hingga aktivitas sosial yang bising dinilai memberi dampak buruk bagi kelangsungan pohon.
"Seharusnya area sekitar pohon itu netral. Tidak boleh ada bangunan, apalagi kafe atau tempat tongkrongan. Pohon itu akhirnya sakit, lapuk, dan mati," katanya.
Dalam lukisan berjudul Tercerabut oleh Zaman, Wahudi menggambarkan randu alas dengan akar yang seolah tercabut, merepresentasikan keterputusan antara manusia dan alam akibat perubahan pola hidup. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita