MUNGKID — Suasana riuh meriah memenuhi kawasan Ketep Pass, Sawangan, Selasa (2/12). Ratusan warga sudah berkumpul sejak pagi, menunggu rangkaian kirab 21 gunungan hasil bumi yang mewakili 21 kecamatan di Kabupaten Magelang.
Gunungan berupa sayur-mayur, ketela, cabai, kacang panjang, dan hasil panen lainnya itu diarak sejauh kurang lebih 500 meter menuju panggung utama festival gunungan di kompleks Ketep Pass.
Selama prosesi iring-iringan berlangsung dan suara gamelan dari panggung kehormatan berpadu menciptakan suasana syahdu sekaligus penuh euforia budaya.
Baca Juga: Skuad PSIM Jogja Libur untuk Pulihkan Fisik dan Mental, Ze Valente Pilih Bali untuk Rehat
Begitu kirab mencapai garis akhir, warga merapat lebih dekat ke panggung. Lantas, mereka berebut gunungan hasil bumi itu. Mereka rela berdesak-desakan demi mendapatkannya. Namun, hal itu tidak disoal karena tingginya antusiasme warga untuk turut serta dalam kegiatan tersebut.
Festival gunungan tahun ini digelar bersamaan dengan kesenian macapat dan pertunjukan ketoprak. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang Slamet Achmad Huseinbmenyampaikan, agenda ini merupakan bagian dari implementasi visi dan misi bupati dalam RPJMD 2025–2030 serta program Sapta Cipta.
"Ini bukan kegiatan sektoral, tapi terpadu. Kami dorong bersama, selaras dengan prioritas bupati terkait kebudayaan," ujarnya di sela kegiatan.
Baca Juga: Slemania Bangkit Lagi, Kumpulkan Balung Pisah hingga Rangkul Gen Z untuk Penuhi Tribun Utara MaglS
Selain sebagai perayaan Hari Guru Nasional, festival ini juga menjadi ruang evaluasi dan pembinaan potensi budaya di tiap kecamatan. Hal ini terkait rencana besar pemkab Magelang yang akan menggelar 56 festival budaya sepanjang 2025–2026 untuk memperkuat pariwisata daerah dan menarik wisatawan.
"Kadi kami bisa melihat potensi terbaik masing-masing kecamatan untuk mendukung agenda festival tahunan. Semua ini menuju pemajuan budaya," lontarnya.
Masing-masing gunungan merupakan hasil kreativitas kecamatan peserta, baik dari bentuk, konsep dekorasi, hingga pemilihan komoditas lokal. Seluruh gunungan dinilai dan diperlombakan dengan kategori juara 1, 2, 3 serta harapan 1–3.
Baca Juga: Empat Kali Clean Sheet dan Jadi Andalan PSIM Jogja, Cahya Supriadi Buktikan Kiper Lokal Tak Kalah dari Asing
"Ya, ini dilombakan. Nanti ada uang pembinaan dari pak bupati. Untuk juara 1 sekitar Rp 4 juta sesuai indeks kabupaten," kata Husein.
Dia menyebut, gunungan tidak hanya mewakili identitas daerah masing-masing kecamatan. Tetapi juga mencerminkan kekayaan pertanian Kabupaten Magelang yang terkenal subur karena berada di kawasan dataran tinggi vulkanik.
Setelah dewan juri menetapkan pemenang, pembawa acara memberi aba-aba, 'gunungan boleh digerebek!'. Dalam hitungan detik, kerumunan warga langsung menyerbu gunungan.
Baca Juga: Pembangunan Jalan Darurat dan Pembuatan Tanggul di Srikeminut, Pemkab Bantul Gunakan Anggaran Rp 2 Miliar
Bagi warga, berebut gunungan bukan sekadar mengambil hasil bumi, tetapi diyakini sebagai simbol keberkahan, ucapan syukur atas hasil panen, sekaligus harapan agar rezeki di tahun mendatang semakin melimpah.
"Salah satu yang kita miliki dari potensi budaya adalah upacara tradisi, dan gunungan ini bagian dari itu. Ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan," paparnya.
Baca Juga: BPBD Gunungkidul Siapkan 760 Juta untuk Penanganan Bencana Selama Status Siaga Darurat Hidrometeorologi Basah
Dia berharap, festival ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi berkembang menjadi tradisi yang memperkuat identitas budaya masyarakat Kabupaten Magelang serta mendorong sektor wisata lokal.
Dengan rencana pelaksanaan puluhan festival budaya di 2025–2026, pemkab Magelang optimistis pariwisata daerah akan tumbuh pesat dan memberikan dampak ekonomi langsung kepada warga. (aya)