Acara dimulai dengan prosesi Kirab Trunajaya, yakni arak-arakan Abdi Dalem dan Prajurit Keraton yang membawa pusaka serta ubarampe kebesaran Sultan. Dimulai sekitar pukul 15.00, rute kirab dilakukan dari Gedung DPRD DIY menuju Kagungan Dalem (KgD) Pagelaran Keraton Yogyakarta.
"Kirab melambangkan penyatuan kekuasaan (Tunggal Sabda)," ujar Abdi Dalem Kridhamardawa MB Renggowaditro saat ditemui di Gedung DPRD DIJ lokasi awal Kirab Trunajaya, Rabu (22/10).
Tingalan Dalem Tahunan adalah peringatan hari ulang tahun kelahiran atau weton Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 menurut penanggalan Jawa. Acara tersebut menegaskan kembali peran Sri Sultan sebagai Payung Agung dan pemimpin spiritual (Sayidin Panatagama Kalifatullah) sekaligus pemimpin budaya.
"Ritual ini melestarikan keyakinan Jawa tentang keseimbangan antara mikrokosmos (diri pribadi) dan makrokosmos (alam semesta dan kekuasaan)," katanya.
Kirab Trunajaya tahun ini istimewa karena dua kereta pusaka milik Keraton Yogyakarta dihadirkan menjadi tunggangan saat kirab. Dua kereta tersebut yakni Landower Surabaya dan Premili.
"Ini menjadi spesial karena terakhir kali kereta keraton miyos itu sekitar 12–13 tahun yang lalu. Jadi ini pertama kalinya kami keluarkan kembali," paparnya.
Setelah kirab, ada prosesi penyambutan dan sugengan yakni pengambutan rombongan kirab dan upacara Sugengan (syukuran) sederhana sebagai inti dari Tingalan Dalem. Acara terakhir yakni Pementasan Beksan Trunajaya di Kagungan Dalem Pagelaran Keraton Yogyakarta.
"Pementasan tari klasik yang menyajikan konflik dan resolusi, dibawakan sesuai pakem Keraton," terangnya.
Secara spesifik, dengan mengangkat tarian Beksan Trunajaya agenda ini merefleksikan nilai-nilai heroisme, kesetiaan, dan semangat perjuangan. Tarian klasik ini merupakan tarian perang yang disublimasikan, sarat makna kesatriaan, dan memerlukan tingkat kemahiran tinggi.
Secara umum, tujuan utama acara tersebut adalah sebagai wujud persembahan bakti (Bakti Kagem Nata) dan doa dari seluruh Abdi Dalem, Sentana Dalem, dan rakyat kepada Sri Sultan. Selain itu juga sebagai pelestarian Beksan Klasik, yaitu Beksan Trunajaya. Kemudian edukasi multigenerasi, menghadirkan warisan budaya dalam format yang dapat dinikmati publik.
"Harapannya kita bisa merawat nilai-nilai ini bersama," ujarnya.
Kepala Museum Wahanarata RM. Pradiptya Abikusno menyampaikan total ada 60 kuda yang dipakai untuk Kirab Trunajaya. Delapan kuda untuk menarik kereta pusaka, 52 lainnya akan ditunggangi.
Sejarah Kereta Landower yang juga disebut Landower Surabaya dulunya juga merupakan kereta milik Pangeran Purbaya yang kelak menjadi Sultan Hamengku Buwono VIII. Sedangkan Kereta Premili dulunya digunakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Dipergunakan khusus untuk kereta pengangkut penari-penari Kasultanan Yogyakarta, bukan dari keluarga inti Sultan.
"Kereta ini juga jadi saksi sejarah dalam kebudayaan Keraton Yogyakarta," ucap laki-laki dengan nama pemberian Keraton KRT Condrokusumo itu. (oso)
AGUNG DWI PRAKOSO/RADAR JOGJA
Foto : Pementasan Beksan Trunajaya dalam Peringatan Tingalan Dalem Taun Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 di Kagungan Dalem (KgD) Pagelaran Keraton Yogyakarta, Rabu (22/10).
Editor : Bahana.