Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengungkap Asal-Usul Motif Parang, Simbol Keabadian dan Kekuatan dalam Batik Jawa

Bahana. • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 18:10 WIB

Batik motif parang
Batik motif parang
RADAR JOGJA- Motif Parang dalam batik berasal dari kata Jawa pereng yang bermakna “lereng” atau garis miring menurun (slope).

Motif ini biasanya digambarkan sebagai garis diagonal dari atas ke bawah, dengan pola huruf “S” yang saling terkait tanpa putus, menggambarkan kesinambungan.

Menurut sejumlah catatan sejarah dan tradisi batik, motif Parang pertama kali dikembangkan di lingkungan Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senopati (juga dikenal sebagai Sutowijoyo).

Dalam meditasi di pesisir selatan Jawa, ia terinspirasi oleh ombak yang terus bergelombang menghantam karang laut, lalu motif huruf “S” berkelok-kelok muncul sebagai representasi visual gerak ombak tersebut.

Pada masa awalnya, motif Parang tidak boleh digunakan sembarangan masyarakat.

Hanya kerabat kerajaan, bangsawan, dan kalangan istana tertentu yang memiliki hak mengenakannya.

Pola itu dianggap sakral dan memiliki status sosial tinggi. Motif Parang sering dikategorikan sebagai batik larangan.

Setelah peristiwa Perjanjian Giyanti tahun 1755, Kerajaan Mataram terbagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Dari situ, gaya Parang menyebar dan berkembang di kedua pusat budaya itu (gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta), dengan perbedaan dalam warna, ukuran pola, dan cara pemakaian.

Motif Parang bukan hanya dekoratif, melainkan mengandung makna mendalam.

Pola silang dan huruf “S” berulang menggambarkan gelombang laut yang tak pernah berhenti simbol semangat pantang menyerah.

Motif ini juga melambangkan kesinambungan (antara generasi, antara perjuangan), tekad, pengendalian diri, dan kesetiaan terhadap ideal.

Seiring waktu, motif Parang tidak lagi terbatas di keraton saja, tetapi juga merambah komunitas masyarakat umum.

Kini motif ini digunakan dalam batik tulis, batik cap, dan berbagai pakaian kontemporer.

Perajin di Yogyakarta, Solo, dan daerah lain menghasilkan Parang dalam variasi warna dan media berbeda.

Inspirasi motif Parang banyak dikaitkan dengan gelombang laut selatan Jawa terutama pantai Parangtritis.

Gerak ombak yang terus menghantam karang ini menjadi metafora kekuatan alam dan keteguhan manusia. Elemen garis miring dan pola S sering dikaitkan dengan ombak laut.

Dalam studi “The Parang Motif in Variants of Classical Javanese Batik,” motif Parang juga dianggap sebagai simbol “perang” dalam arti internal perjuangan melawan hawa nafsu, moral, dan godaan, bukan perang antar-manusia.

Kajian lain menekankan aspek estetis dan filosofi yang menjadikan Parang motif transformatif dari upacara kerajaan ke simbol budaya rakyat.

Motif Parang telah diakui sebagai salah satu ikon batik Indonesia yang klasik dan mendunia. Ia mencerminkan perpaduan estetika, filosofi, dan histori budaya Jawa. (Adella Haviza)

Editor : Bahana.
#Motif Parang #batik jawa