Naskah tersebut berhasil ditemukan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Gunungkidul pada pertengahan 2025 di Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo.
Kemudian, kajian filologis yang dilakukan Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY Setya Amrih Prasaja mengungkap lontar tersebut bukan hanya menyimpan kisah para nabi, tetapi juga memperlihatkan jejak transisi penting dalam sejarah aksara dan sastra Jawa.
“Serat Yusuf dalam lontar ini berfungsi sebagai medium spiritual seperti kisah para nabi dijadikan sarana tafakur, pembelajaran moral, sekaligus bahan estetika dalam bentuk tembang Jawa seperti asmaradana,” ujar Setya saat ditemui di Perpustakaan Daerah Gunungkidul pada Selasa, (30/9/2025).
Dalam hasil pembacaan awal, Setya melihat isi naskah lontar tersebut secara konsisten menyebut nama-nama nabi besar seperti Muhammad, Isa, Ibrahim, Yakub, dan Yusuf.
Dari intensitas penyebutannya, kata Setya, Yusuf menjadi tokoh sentral.
Penulis naskah bahkan menuliskan ungkapan emosional seperti kasmaran ingsun ngrungu tutur Nabi Yusuf ika atau aku jatuh hati mendengar tutur Nabi Yusuf.
Kutipan tersebut, menurut Setya menunjukkan bahwa penulis atau penyalin naskah bukan sekadar mendokumentasikan kisah, tetapi juga menghayati secara pribadi.
Ciri-ciri ini menegaskan bahwa naskah bisa disejajarkan dengan karya suluk abad ke-15, misalnya Suluk Wujil yang juga lahir di tengah proses pertemuan tradisi Jawa dengan ajaran Islam.
“Lontar ini memperlihatkan bukan hanya keindahan tulisan, tetapi juga konteks budaya yang berubah. Aksara dan bahasa menunjukkan jejak akulturasi, dari pola Kawi ke Jawa Baru, dari Hindu-Buddha ke Islam,” terang Setya.
Selain aspek teknis, isi lontar juga memperlihatkan sinkretisme unik. Kisah Yusuf, yang dalam tradisi Islam berasal dari surah Yusuf dalam Al-Qur’an, ditulis dalam langgam tembang Jawa.
Dengan cara ini, ajaran agama hadir dalam estetika lokal. Penulis naskah menggabungkan nilai religius dengan rasa estetis Jawa.
Kisah nabi menjadi bahan tembang, penuh rima dan rasa. Misalnya, lanjut Setya, bait tentang keteguhan Yusuf dalam menghadapi godaan ditulis dalam bentuk syair yang sarat metafora.
“Ini menandakan bahwa teks agama bukan hadir kaku, melainkan masuk ke jiwa masyarakat Jawa lewat keindahan bahasa,” jelas Amrih.
Kajian terhadap lontar ini bersamaan dengan upaya pemetaan naskah kuno di Gunungkidul yang dilakukan oleh seorang Filolog asal Dlingo Bantul Supriyadi.
Melalui kerja sama dengan Perpustakaan Daerah Gunungkidul, Supriyadi menemukan berbagai manuskrip yang masih tersimpan di rumah-rumah warga maupun lembaga lokal.
Identifikasi ini penting karena menunjukkan bahwa naskah kuno tidak hanya berada di keraton atau koleksi resmi, melainkan juga di tangan masyarakat.
Namun kondisi naskah bervariasi, kata dia, ada yang masih terjaga, ada pula yang mulai rusak akibat kelembaban dan kurangnya perawatan.
“Gunungkidul yang lebih sering dikenal lewat tradisi lisan ternyata menyimpan kekayaan teks tulis. Ini peluang besar sekaligus tantangan,” ujar Supriyadi.
Menurutnya baik lontar Serat Yusuf maupun naskah kuno yang ditemukan di Gunungkidul menyoroti kerentanan warisan literasi Jawa.
Tanpa perawatan dan dokumentasi, bagi Filolog asal Dlingo tersebut naskah bisa hilang.
Bagi Supri digitalisasi dan transliterasi menjadi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan fisik naskah.
Lebih lagi, bagi dia pengetahuan kuno pada naskah yang berhasil ditemukan juga isinya bisa dipelajari generasi muda sekarang.
“Di dalamnya ada lapisan nilai sejarah aksara, cara berpikir masyarakat, hingga cara Jawa menerima Islam. Semuanya bisa digali jika kita punya kesadaran untuk menjaga dan menelitinya,” katanya.
Tak hanya itu, melalui kajian ini, Setya menegaskan bahwa naskah kuno adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Baginya tata bahasa pengetahuan masa lampau menyimpan jejak bagaimana manusia Jawa menafsirkan dunia, membangun identitas, dan merespons perubahan budaya.
Dari Serat Yusuf yang ditulis dengan aksara Jawa, hingga manuskrip Gunungkidul yang tersebar di masyarakat, menurut dia semua menyuarakan pesan bahwa warisan ini tidak boleh dibiarkan hilang.
“Naskah kuno tidak hanya bertahan di ruang penyimpanan, tetapi juga hadir sebagai sumber ilmu, moral, dan inspirasi. Setiap naskah adalah saksi peradaban. Jika ia hilang, sebagian dari jati diri kita ikut hilang.” (bas)
Editor : Bahana.