Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mubeng Beteng, Tradisi Unik Yogyakarta yang Masih Dipertahankan hingga Kini

Bahana. • Selasa, 30 September 2025 | 22:22 WIB
DIAM: Mubeng beteng pada 1 Suro dengan berjalan mengelilingi beteng Keraton Jogja. (Dok Istimewa)
DIAM: Mubeng beteng pada 1 Suro dengan berjalan mengelilingi beteng Keraton Jogja. (Dok Istimewa)

RADARJOGJA – Ribuan warga Yogyakarta dan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat secara rutin menggelar tradisi Mubeng Beteng pada malam 1 Suro atau 1 Muharram, sebagai wujud refleksi, doa, dan pengharapan untuk tahun yang lebih baik.

Mubeng Benteng Karatan Ngayogyakarta Hadiningrat digelar setiap memasuki tahun baru, baik tahun Hijriah maupun tahun Jawa.

Tradisi ini menjadi bagian dari tirakat lampah ratri, yakni bentuk munajat atau doa kepada Allah SWT dengan cara berjalan mengitari benteng mengikuti lintasan tertentu.

Prosesi Mubeng Beteng dimulai pukul 00.00 WIB setelah lonceng keraton berdentang 12 kali.

Ribuan peserta, termasuk abdi dalem dan warga, berjalan kaki sekitar lima kilometer mengelilingi Beteng Baluwarti dalam keheningan atau tapa bisu, banyak di antaranya tanpa alas kaki.

Rute Mubeng Beteng berawal dari Keben Keraton, melewati sejumlah jalan utama, lalu kembali ke titik awal.

Sepanjang perjalanan, peserta menjalani tapa bisu tanpa berbicara sebagai wujud laku prihatin.

Tradisi ini sarat makna spiritual, terkait filosofi tirakat Jawa dan simbol hijrah Nabi Muhammad SAW.

Sejak 2015, Mubeng Beteng ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Meski bukan hajatan resmi Keraton, tradisi yang digelar abdi dalem bersama masyarakat ini tetap menjadi magnet budaya sekaligus daya tarik wisata yang diikuti ribuan orang setiap tahun.

Penulis: Ni Made Shinta Apriliayani
Sumber: Dinas Kebudayaan
a)

Editor : Bahana.
#Yogyakarta #Mubeng beteng