RADAR JOGJA - Situasi mencekam terasa di Mapolda DIY Jumat (29/5/2025) malam.
Sejumlah gedung dan fasilitas markas Polda DIY dirusak dan dibakar.
Awalnya, aksi massa berjalan sejuk dan damai.
Polda DIY mengungkapkan bela sungkawa dengan turut prihatin atas peristiwa driver ojol, Affan Kurniawan di tengahdemonstrasi menolak kebijakan DPR RI yang dinilai tidak pro-rakyat pada Kamis (28/8/2025) lalu di Jakarta.
Baca Juga: PSIM Jogja Bungkam Malut United, Van Gastel Apresiasi Implementasi Set Piece Timnya
Namun, semakin malam, aksi massa semakin rusuh.
Demonstrasi yang tadinya berjalan sejuk berubah menjadi tindakan anarkis.
Emosi massa meluap. Aksi massa membakar gedung SPKT dan kendaraan polisi setra fasilitas lainnya.
Massa sulit diredam, hingga akhirnya Sri Sultan Hamengku Buwono X datang ke Mapolda DIY.
Menariknya, kehadiran Raja Yogyakarta di tengah-tengah aksi massa itu diiringi Gendhing Raja Manggala.
Baca Juga: Dampak Demo Ricuh, Kemendagri Minta Acara Penutupan Kebumen Fest Dibatalkan
Sontak mencuri perhatian aksi massa.
Aksi yang penunuh ketengangan itu sejenak mereda.
Lalu, apa makna dari Gendhing Raja Manggala yang mengiringi Sri Sultan Hamengku Buwono X di tengah aksi massa yang chaos, di Mapolda DIY?
Makna Gendhing Raja Manggala
Praktisi Karawitan Yogyakarta Anon Suneko menjelaskan, bahwa gendhing tersebut memiliki makna dan sarat yang sakral.
Tidak sembarangan dikumandangkan.
Gendhing ini popular, khususnya bagi yang sangat paham dengan keberadaan Keraton Yogyakarta dengan rajanya.
Raja Manggala artinya raja besar.
Raja dalam hal ini adalah raja atau ratu utama.
Baca Juga: Tampil Spartan, PSIM Jogja Menang Meyakinkan 2-0 di Kandang Malut United
Sedangkan Manggala itu artinya, pembesar, komandan dan pemimpin.
Jadi jika keduanya digabungkan, bisa dimaknai dengan raja dari segala raja.
Menurutnya, jika dilihat dari teks, gendhing ini disajikan secara lengkap dan memiliki dua struktur.
Yakni, ladrang laras pelog pathet 6 yang disajikan dalam format soran irama satu.
Kemudian versi lengkapnya, ladrang irama dua.
Baca Juga: Tundukkan Fulham, Chelsea Kuasai Puncak Klasemen Sementara Premier League, Enzo Fernandez Bintangnya
Gendhing Raja Manggala Ada Dua Versi
Anon menyebutkan, Gendhing Raja Manggala juga terbagi dua versi penyajian.
Pertama, dengan Ladrang Prabu Mataram. Ini dibawakan ketika kehadiran raja sedang tidak menyambut tamu.
Kedua, Raja Manggala irama dua. Ini dibawakan ketika kehadiran Raja dalam menyambut tamu. Misalnya tamu kenegaraan.
"Biasanya dalam irama dua ada lantunan syair. Nah, syairnya ini yang secara lebih jelas akan mendiskripsikan bagaimana kebesaran rajanya raja," ungkap Anon yang juga Dosen Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Gendhing ini memiliki spirit khusus. Sekaligus komposisi atau icon yang selalu menyertai kharisma seorang raja Yogyakarta ketika berhadapan atau menghadapi tamu atau masyarakat.
"Itu kalau secara makna dasarnya seperti itu," terangnya.
Baca Juga: Fotografer Humas DPRD Abay Jadi Korban Kebakaran Buntut Demonstrasi di Depan Gedung DPRD Makassar
Dibawakan Sesuai Pakem
Gending ini sifatnya harus mengikuti pakem, merupakan simbol kebesaran, keluhuran kebudayaan Yogyakarta.
Artinya, ada komitmen untuk menjaga bahwa ini adalah warisan budaya yang ada sejak Sri Sultah Hamengku Buwono VIII, yang harus dijaga dan dilestarikan.
Awalnya gendhing ini berbentuk slendro. Kemudian ada perubahan menjadi pelog, tetapi tidak merubah melodi utamanya.
"Istilah di kami, balungannya itu tidak dirubah," ujarnya.
Mengapa demikian? lebih lanjut Anon menjelaskan, bahwa dar sumber yang dia terima, gendhing ini adalah salah satu gendhing Keraton Yogyakarta yang termuat dalam Serat Not Pakem Wiromo Wilet ing Predonggo atau kumpulan gendhing-gendhing klasiknya Keraton Jogja.
Baca Juga: Tukang Rosok Panen! Pasca Kericuhan di Mapolda DIY, Punguti Barang yang Masih Laku Dijual
Dan sejauh ini belum diketahui siapa nama penciptanya.
Gendhing ini, jelas Anon, tidak seorang pun berani untuk merubah itu kecuali keraton sendiri.
Meskipun masyarakat yang bergabung dalam komunitas-komunitas gamelan Jogja itu juga mampu menyajikan, biasanya mereka tetap patuh tidak akan menyajikan gendhing itu ketika tidak ada kebutuhan yang urgent untuk mengiringi kehadiran sultan atau Raja Yogyakarta.
Gending ini boleh dibunyikan siapapun, boleh dilatihkan siapapun, tetapi penyajian yang idealnya hanya untuk mengiringi raja Yogyakarta.
"Misalnya keraton pada era pemerintahan HB X, kurang lebih 5-7 tahun yang lalu itu memodifikasi syairnya. Tetapi struktur penyajiannya tidak boleh dirubah," bebernya.
Syair dirubah biasanya menyesuaikan konteks raja yang memerintah di zamannya.
Tentu setiap zaman berbeda, raja yang memimpin juga berbeda.
Gendhing ini selalu mengiringi Raja saat hadir dalam sebuah acara.
Gendhing ini bisa juga sebagai seruan dari abdi dalem, artinya Ngarso Dalem akan hadir, kemudian gending itu dikumandangkan.
"Menurut saya, Ketika demonstrasi yang dilakukan di Polda, suasana bagaimana demonstrasi hiruk pikuk kemudian dan tiba-tiba ada suara gendhing Jawa justru akan menjadi notifikasi. Sehingga fokusnya ke gedhing itu," katanya.
Hal ini tentu mencuri perhatian hingga membuat aksi massa yang mendengarkan ikut penasaran dan memilih menyimak sambutan maupun arahan dari Sri Sultan HB X.
Dengan pendekatan budaya ini, sedikit menjadi terapi psikologi di tengah kericuhan.
"Tanggapan saya sebagai outsider (orang luar) ini disengaja atau tidak memang akan mencukup mencuri perhatian demonstran sehingga perhatian orang itu akan tertuju pada di balik musik tersebut. Menjadi notifikasi, oh raja hadir. Mohon perhatian nih, raja mau berbicara nih," katanya.
Menurutnya, Gending Raja Manggala, selain simbol kebesaran identitas Raja Yogyakarta.
Dalam konteks demonstrasi, kehadirian raja yang diiringi Gendhing tersebutmerepresentasikan sosok pemimpin yang berwibawa, pengayom kedamaian, kepercayaan yang selama ini dirindukan oleh rakyat.
"Terutama demonstrasi belakangan ini, mereka (rakyat, Red) merasa kehilangan perlindungan kepercayaan dari pejabat aparat dan lainnya," beber Anon. (mel)
Editor : Meitika Candra Lantiva