RADAR JOGJA - Komunitas Suku Karinding Jogja (Sukarjo) terbentuk dengan membawa misi mulia. Yakni ikut melestarikan alat musik tradisional asal Jawa Barat berupa karinding yang saat ini hampir punah.
Pendiri Sukarjo Erwin Rizki menjelaskan, Sukarjo sengaja didirikan karena alat musik karinding itu dirasa telah mengalami penurunan peminat. Bahkan hampir menuju kepunahan. Maka dari itu komunitas ini berdiri untuk menjaga warisan budaya tersebut agar tidak sepenuhnya sirna sejak 2019 silam.
"Walaupun masih ada yang main, cuma jika dibiarkan maka alat musik itu akan kembali menuju ke kepunahan," ucapnya Jumat (11/7).
Selain menjaga agar karinding tidak punah, fokus utama Sukarjo adalah menciptakan ruang belajar bersama lewat workshop. Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan cara memainkan karinding.
Tetapi juga bagaimana membuat alat musik itu sendiri. Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam terhadap karinding. Mulai dari proses penciptaan hingga resonansi bunyinya.
Workshop, lanjutnya, rutin digelar sejak sebelum pandemi. Lokasinya menyasar warung kopi, kos, kampus, hingga acara kesenian. Tujuannya untuk menggaet minat anak muda supaya mengenal karinding.
Baca Juga: Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Tinjau Kesiapan Stadion Si Jalak Harupat Jelang Piala Presiden 2025
"2019 itu kami rutin setiap satu bulan itu dua kali. Kalau sekarang sudah jarang," lontar pria yang akrab disapa Iwenk itu.
Pandemi Covid-19, sempat memberikan dampak yang signifikan bagi Sukarjo. Sebab dari peristiwa tersebut mulai menggerogoti jumlah anggota komunitas yang dulunya cukup banyak. Namun kini hanya tersisa empat orang.
Meski demikian, semangat Sukorjo tetap tidak padam. Keempat anggota inti itu tetap berkomitmen untuk terus menjalankan roda komunitas, dan menjaga api pelestarian karinding tetap menyala di Jogjakarta.
Baca Juga: Pertahankan Tradisi dan Budaya Nusantara, Pemprov Jateng Berkomitmen Kuatkan Industri Tenun Lurik Tradisional
"Kami akan terus tumbuh," tegas Iwenk.
Iwenk berharap, karinding dapat semakin dikenal luas oleh masyarakat. Lebih dari itu, Sukarjo juga bercita-cita agar karinding bisa muncul kembali secara masif. Bukan hanya sebagai artefak masa lalu. Tetapi sebagai bagian hidup dari denyut nadi kebudayaan kontemporer Indonesia.
"Kami akan terus berupaya melestarikan budaya. Itu bisa dimulai dari langkah kecil, namun berdampak besar," tandasnya. (ayu/eno)