Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Buang Sial dan Ngalap Berkah, Kadipaten Pakualaman Gelar Tradisi Labuhan di Pantai Glagah Kulon Progo

Anom Bagaskoro • Minggu, 6 Juli 2025 | 18:37 WIB

KIRAB: Gunungan hasil bumi diarak dan di larung di Pantai Glagah.
KIRAB: Gunungan hasil bumi diarak dan di larung di Pantai Glagah.
KULON PROGO - Kadipaten Pakualaman menggelar Labuhan di Pantai Glagah, Minggu (7/7).

Tradisi yang telah berumur ratusan tahun ini, merupakan perwujudan upaya membuang sial dan unsur negatif. Sedangkan, bagi masyarakat luas tradisi ini merupakan upaya ngalap berkah.

Sedherek Ndalem KRMT Kusumo Tanoyo menyampaikan, tradisi labuhan telah digelar selama ratusan tahun.

Dimulai sejak masa Pakualam ke-2, tradisi labuhan terus filestarikan hingga saat ini. Bahkan semakin meriah setiap tahunnya, akibat labuhan dibuka secara umum.

"Labuhan merupakan tradisi, dan di tahun ini lebih ramai, masyarakat tumpah ruah," ucap Kusumo Tanoyo, saat ditemui awak media, Minggu (7/7).

Kusumo menjelaskan, labuhan kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Lantaran, masyarakat lebih banyak berdatangan, terutama bagi pelajar yang sedang menikmati masa libur sekolah.

Keramaian bahkan mulai terlihat saat masyarakat memadati pesisir pantai, tepat sebelum prosesi larungan.

Sebelumnya rangkaian acara labuhan, diawali dengan kirab dengan membawa gunungan dari Pesanggrahan Kadipaten Pakualaman menuju Pesisir Barat Pantai Glagah.

Jarak tempuh kirab sekitar 2 km, memakan waktu sekitar 1,5 jam. Kirab diawali dengan Bergada Lombok Abang, dengan diikuti oleh 4 gunungan.

Di antaranya gunungan yang berisi hasil bumi, hasil panen, jajanan pasar, serta gunungan sukerto milik Sri Paduka Pakualam ke-10.

Di belakang gunungan diikuti bergada dengan iringan musik khas keraton. Dan selanjutnya barisan terakhir diikuti masyarakat sekitar.

"Labuhan merupakan tradisi kami, membuang hal-hal negatif atau sial," ucapnya.

Kusumo menjelaskan, labuhan memiliki makna dan filosofinya sendiri. Lantaran, 4 gunungan yang dilarung ke laut menyimbolkan filosofi. Seperti gunungan sukerto, menyimbolkan proses pembuangan kesialan yang melekat pada diri.

Diwujudkan dengan gunungan berisi ikatan kain, didalamnya terdapat pakaian, kain, kuku, dan rambut yang dulunya pernah dikenakan raja, ratu, serta kerabat Kadipaten Pakualam.

Gunungan sukerto ini dibawa ke tengah laut, agar ketika ombak menerjang tak membuat gunungan kembali ke pinggir pantai.

Sedangkan gunungan yang berisi hasil bumi serta panen, menyimbolkan perwujudan rasa syukur, dan mendoakan arwah leluhur.

Selain itu, gunungan yang nantinya diperebutkan masyarakat ini merupakan perwujudan doa untuk setahun ke depan. Lantaran, di malam sebelum dilarung pengajian juga telah digelar di kadipaten.

Gunungan hasil bumi inilah yang menjadi perebutan masyarakat. Namun, sebelum diperebutkan atau dirayah, terdapat prosesi ritual yang dilakukan tepat di pesisir pantai.

Ritual berupa doa meminta keberkahan menandai proses larung akan dimulai. Gunungan sukerto yang dibawa Tim SAR Pantai Glagah dibawa dan dilarung ke tengah laut.

Sedangkan gunungan hasil bumi dirayah masyarakat sekitar, sesaat sebelum dilarung. Prosesi rayahan ini, memancing keramaian. Lantaran, masyarakat memperebutkan hasil bumi berupa sayuran dan buah. Bahkan gunungan langsung ludes tanpa hitungan menit.

Bagi masyarakat, perrbutan gunungan merupakan upaya ngalap berkah atau mencari berkah dari hasil bumi.

Salah satu masyarakat asal Palihan Temon Suratmi mengaku antusias di rayahan. Bahkan sedari pagi, durinya mengikuti labuhan dan dilanjutkan merayah gunungan.

Bagi perempuan ini, rayahan merupakan tradisi ngalap berkah. Dipercaya hasil bumi yang dirayah dapat memberikan kebaikan bagi keluarganya.

"Tadi rayahan mendapat sayur, rencana untuk dimasak," ucap Suratmi, sambil menunjukkan hasil rayahan. (gas)

Editor : Bahana.
#Ngalap Berkah #Yogyakarta #Kulon Progo #labuhan #Kadipaten Pakualaman