Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Andhudhah Kawruh Sinengker Jadi Ajakan Diam-Diam namun Tegas dalam Festival Lima Gunung XXIV di Lereng Merapi

Naila Nihayah • Sabtu, 5 Juli 2025 | 02:29 WIB

 

ATRAKTIF: Kesenian dari beberapa kelompok unjuk gigi saat pagelaran Festival Lima Gunung (FLG) XXIII di Dusun Keron, Krogowanan, Sawangan, Minggu (29/9/2024).
ATRAKTIF: Kesenian dari beberapa kelompok unjuk gigi saat pagelaran Festival Lima Gunung (FLG) XXIII di Dusun Keron, Krogowanan, Sawangan, Minggu (29/9/2024).
 

 

 

MUNGKID – Festival Lima Gunung (FLG) XXIV bakal dihelat di Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Kabupaten Magelang. Perhelatan tersebut sekaligus merayakan Suran Tutup Ngisor ke-90, yang berlangsung mulai 9–13 Juli 2025.

Ketua KLG Sujono mengutarakan, melalui tema ‘Andhudhah Kawruh Sinengker’ atau menggali ilmu yang tersembunyi, FLG XXIV menghadirkan refleksi mendalam tentang berbagai krisis. Yakni sosial, politik, ekologi, hingga moralitas digital.

Refleksi itu, kata dia, menjadi sebuah ajakan diam-diam namun tegas dari lereng gunung kepada dunia: mari menggali kembali nilai-nilai luhur warisan budaya untuk menjawab tantangan zaman.

"Ini bukan hanya soal seni. Ini adalah ekspresi batin kami menghadapi zaman," ujarnya di Studio Mendut, Kamis malam (3/7).

Selama lima hari, tak kurang dari 93 mata acara akan digelar. Bagi warga Padepokan Tjipto Boedaja Tutup Ngisor, ini adalah laku budaya dan spiritual yang berpijak pada perayaan tahun baru Jawa, 15 Sura, saat bulan purnama menaungi langit Merapi.

Sujono mengatakan, semua acara itu berlangsung di atas panggung instalasi seni berbahan alam Merapi, seperti jerami, kayu, dan padi. Instalasi itulah yang menjadi simbol utama perhelatan FLG.

Nantinya, lanjut dia, ada sebanyak 1.225 seniman terlibat. Mulai dari anak-anak dusun, pelajar, hingga seniman tamu dari berbagai kota di Indonesia serta mancanegara, seperti Jepang dan Argentina.

Untuk pertama kalinya pula, komunitas menganugerahkan Uma Gunung Award. Anugerah itu sebagai bentuk penghormatan terhadap para tokoh dan entitas yang telah memberikan sumbangsih spiritual, intelektual, dan budaya.

Sujono menegaskan, tema tahun ini lahir dari perbincangan mendalam komunitas sejak awal tahun. Diskusi kritis yang menyentuh kegelisahan akan masa depan manusia dan alam. "Harapan kami, nilai-nilai budaya ini menjadi dasar menghadapi kerumitan zaman, melahirkan makna baru yang tetap berakar," ucapnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Magelang #Festival Lima Gunung #studio mendut #lereng merapi #Dukun