Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Laku Bisu Tradisi Suran Warga Bendungan, Kulon Progo sebagai Refleksi Diri Diakhiri dengan Makan Bersama

Anom Bagaskoro • Sabtu, 28 Juni 2025 | 06:45 WIB

 

Masyarakat Padukuhan Bendungan Lor berjalan sambil membacakan doa dalam diam.
Masyarakat Padukuhan Bendungan Lor berjalan sambil membacakan doa dalam diam.

 

KULON PROGO - Masyarakat Padukuhan Bendungan Lor, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates memiliki tradisi unik menyambut tahun baru Islam Satu Muharam.

Setiap malam 1 Sura dalam penanggalan Jawa itu, masyarakat melaksanakan tradisi Laku bisu, Kamis (26/6) malam.

Dukuh Bendungan Lor Agus Purnomo menyampaikan, tradisi laku bisu telah dilaksanakan secara turun temurun. Terdapat beberapa rangkaian kegiatan yang harus dilakukan sebelum laku bisu.

"Sehabis Isya, kami berkumpul untuk doa bersama dilanjutkan dhahar kembul," ucap Agus, Jumat (27/6).

Agus mengungkapkan, doa bersama dilakukan sebelum memasuki tahun baru Islam. Tujuannya, meminta pengampunan atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan selama setahun terakhir.

Doa juga sebagai wujud permintaan dan harapan warga masyarakat padukuhan. Harapannya agar di tahun yang baru, masyarakat mendapatkan hal-hal baik.

Acara dilanjutkan, dengan dengan dhahar kembul, atau makan bersama. Makan bersama diikuti ratusan masyarakat, kurang lebih 200 orang.

Makan bersama merupakan wujud rasa syukur, dan membangun kerukunan antarwarga. Lantaran, makanan seperti nasi gurih dan ingkung dibuat oleh warga secara bergotong royong.

Sekitar pukul 23.00, warga yang sebelumnya telah melaksanakan doa bersama kembali berkumpul di balai padukuhan. Sekitar ratusan orang, tua muda melaksanakan laku bisu.

Laku bisu adalah tradisi berkeliling wilayah padukuhan dengan berjalan kaki sekitar tiga kilometer. "Laku bisu dimulai tepat pukul 00.00, berjalan keliling kampung tanpa berbicara," ucapnya.

Seperti namanya, laku bisu mewajibkan pesertanya untuk tak berbicara sepatah katapun. Bahkan untuk sekedar berbisik, keluarnya suara dari mulut sangatlah diminimalisir.

Namun, di balik diamnya peserta laku bisu, ada doa panjang yang dilantunkan sepanjang perjalanan. Mulai dari salawat, doa keselamatan, hingga meminta pengampunan.

Laku bisu merupakan cerminan atas keinginan masyarakat untuk muhasabah diri, atau refleksi atas perbuatan selama setahun terakhir. Harapannya, perbuatan yang bertentangan dengan keyakinan teringat agar tak diulangi di kemudian hari.

Selama laku bisu, ratusan masyarakat akan berhenti di titik pinggiran pedukuhan. Tokoh agama setempat akan melantunkan adzan dan doa. Tujuannya, agar wilayah Padukuhan Bendungan Lor terhindar dari marabahaya.

Warga Padukuhan Bendungan Lor Anang Maiyanto mengaku telah mengikuti laku bisu selama tiga tahun berturut-turut. Sebagai warga pendatang, Anang cukup antusias. Lantaran, orientasi tradisi merupakan doa yang diucapkan langsung ke Tuhan.

"Semoga tahun ini muncul hal-hal baik, jauh dari marabahaya dan diberikan kelimpahan rejeki," ungkapnya. (gas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Kulon Progo #satu muharram #laku bisu #tahun baru #bendungan #wates #1 sura