Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengulik Jodang, Wadah Tumbal atau Benda Sakral: Eksistensi Benda yang Semakin Terkikis Zaman

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 27 April 2025 | 15:25 WIB
Penggunaan Jodang dalam upacara adat tradisi Tanggap Warsa warga Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman.
Penggunaan Jodang dalam upacara adat tradisi Tanggap Warsa warga Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman.

JOGJA - Jodang merupakan wadah untuk membawa seserahan dalam beberapa upacara adat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Eksistensi benda tersebut mulai terkikis oleh zaman.

Namun di beberapa daerah benda tersebut masih menjadi salah satu syarat diadakannya upacara adat dan tradisi.

Salah satu daerah yang masih menggunakan Jodang dalam upacara adat yakni di desa Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman.

Jodang di tempat tersebut masih dilestarikan sebagai bagian yang tidak pernah absen dalam upacara tradisi 'Tanggap Warsa'.

"Setiap melakukan semacam ritual mengelilingi desa di tradisi Tanggap Warsa, jodang itu menjadi wadah untuk menaruh tumbal," ujar Warga Kembangarum, Donokerto, Turi, Sleman Arif Maulana saat dikonfirmasi, Sabtu (26/4/2025).

Tanggap Warsa merupakan upacara tradisi yang diadakan warga Kembangarum setiap malam satu suro.

Tradisi tersebut dilakukan malam hari, yakni rombongan warga dan beberapa tokoh berkeliling kampung dengan membawa uba rampe dan tumbal yang diletakkan dalam Jodang.

"Uba rampe yang ada di dalam jodang yaitu tumbal, itu berisi darah ayam, kembang telon, kuku ayam dan ri kemarung (duri)," tuturnya.

Warga Kembangarum hanya menggunakan satu Jodang saat gelar adat Tanggap Warsa.

Jodang dibuat dari kayu dan beberapa tambahan dari tumbuhan lainnya.

"Dulu lunya Jodang, tapi karena rusak kemakan usia, jadi berapa tahun sekali pasti membuat lagi," bebernya.

Menurutnya tidak ada syarat khusus untuk membuat Jodang.

Warga biasa membuat Jodang dengan panjang 1,5 meter dan lebar 80 cm. Biasanya Jodang juga akan di cat.

"Ketika prosesi, Jodang dibawa (dipikul) empat orang," jelasnya.

Jodang, lanjutnya, bukan merupakan benda yang dikhususkan atau mempunyai makna tertentu.

Justru isi yang ada dalam Jodang biasanya yang sarat akan makna atau simbol.

"Jodang kan cuma alat sebagai wadah," terangnya.

Setelah acara adat berjalan mengelilingi kampung tersebut, Jodang selanjutnya akan disimpan. Jodang tidak dikubur bersama isi di dalamnya. (oso)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Terkikis Zaman #Eksistensi Benda #benda sakral #upacara adat #Wadah Tumbal #Mengulik #tradisi #jodang