Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tradisi Ublak Jladren Ruwahan ala Warga di Jalan Sosrowijayan, Pembuat Diharapkan Punya Kesabaran Seluas Lautan  

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 22 Februari 2025 | 15:05 WIB
Warga Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja dan sekitarnya menggelar tradisi Ublak Jladren yang merupakan bagian dari upacara adat Apeman di Jalan Sosrowijayan, Gedongtengen, Jogja, Jumat (21/2) pagi.
Warga Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja dan sekitarnya menggelar tradisi Ublak Jladren yang merupakan bagian dari upacara adat Apeman di Jalan Sosrowijayan, Gedongtengen, Jogja, Jumat (21/2) pagi.

 

 

JOGJA - Warga Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja dan sekitarnya menggelar tradisi "Ublak Jladren" yang merupakan bagian dari upacara adat apeman di Jalan Sosrowijayan, Gedongtengen, Jogja, kemarin (21/2) pagi. Seribu apem diproduksi untuk membuat gunungan apem yang diarak dalam tradisi Ngapem Ruwahan.

Sejak pukul 08.00 warga sekitar Jalan Sosrowijayan, khususnya para ibu-ibu disibukkan dengan kegiatan pembuatan apem. Puluhan tenda berjajar yang disiapkan panitia Sarkem Fest 2025 digunakan ibu-ibu sebagai dapur untuk memasak apem secara langsung.

Para pengunjung dan pengendara bisa melihat secara langsung proses pembuatan apem, bahkan bisa mencicipi dalam kondisi hangat setelah diangkat dari cetakan.

Ketua Panita Acara Ipung Purwandari mengatakan, tradisi itu telah berlangsung lama dan rutin diselenggarakan setiap tahun. Tradisi ini diadakan untuk menyambut bulan Ramadan, tepatnya pada bulan ruwah atau bulan syaban.

Tradisi pertama yang biasa dilakukan ibu-ibu, yakni "Ubak Jladren" atau pembuatan adonan apem secara bersama-sama. Menurutnya, tradisi itu mengandung makna yang mendalam. Jladren berasal dari kata jaladri, dalam bahasa sansekerta artinya lautan yang secara visual cair dan bergelombang.  "Maknanya, pembuat jladren diharapkan memilik kesabaran yang luas seperti lautan," ujarnya kemarin

Masyarakat yang terlibat yakni satu kelurahan yang terdiri dari 45 RT. Total ada sekitar 225 masyarakat yang mengikuti acara, karena setiap RT minimal ada perwakilan lima orang. "Ini bentuk rasa syukur kita terhadap Tuhan dan menyambut Ramadan," tuturnya.

Menurutnya, kue apem memilik makna dan simbol penting bagi masyarakat Jawa. Hal itu terbukti pada penyertaan apem dalan acara-acara adat seperti syukuran maupun selametan. Apem diambil dari bahasa Arab Afuun yang berarti ampunan. "Menjelang Ramadan harapannya masyarakat bisa saling memaafkan dan memberi ampunan," terangnya.

Salah seorang  warga Gedongtengen Noviana mengatakan ia telah melakukan persiapan pembuatan apem sejak pukul 07.30. Menurutnya, tradisi itu dinanti oleh masyarakat. Selain seru, juga sebagai ajang silaturahmi warga.  "Ini saya buat dua kilo adonan, satu kilo itu 60 apem, berarti sekitar 120 apem," ujarnya.

Di dalam tenda, sekitar lima hingga tujuh ibu-ibu sibuk berbagi tugas untuk membuat apem. Mereka berkelompok berdasarkan RT masing-masing. "Nanti untuk gunungan seribu apem yang akan diarak," tuturnya.

Menurutnya proses pembuatan apem tidak sulit. Hanya saja pembuatan adonan memerlukan waktu lebih lama dibandingkan saat penggorengan. "Buat adonan total bisa tiga jam karena harus didiamkan dulu agar mengembang," terangnya. (oso/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#ngapem #Sosromenduran #gunungan #apem #tradisi #Gedongtengen #ruwahan #Jogja #Kesabaran #sosrowijayan