Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fine Art, Seni Grafis Sejajar dengan Lukis dan Patung Hanya Kurang Eksposure

Elang Kharisma Dewangga • Sabtu, 11 Januari 2025 | 14:55 WIB
Fine Art, Seni Grafis Sejajar dengan Lukis dan Patung Hanya Kurang Eksposure
Fine Art, Seni Grafis Sejajar dengan Lukis dan Patung Hanya Kurang Eksposure

JOGJA – Miracle Prints bersama Bentara Budaya Yogyakarta menggelar pameran Pasar Seni Cetak Yogyakarta atau PASETAKY di Bentara Budaya Yogyakarta pada 10-13 Januari 2025. Pameran ini bertujuan memperkenalkan dan mendistribusikan karya-karya seni cetak grafis dan karya turunannya dalam bentuk seni terapan dari seniman Indonesia kepada masyarakat dan pecinta karya seni.

Salah satu peserta pameran dari kolektif Graphic Victims Digie Sigit mengatakan, kolektif seni tempatnya bernaung fokus pada teknik cetak dan grafis. Dalam pameran ini menampilkan sejumlah karya dengan teknik sablon dan stensil. Salah satu yang paling mencolok adalah karya seni berupa spanduk bertuliskan “Genosida Belum Usai”.

Tema politik sering kali menjadi fokus utama karya. Karena menurut Sigit, rata-rata seniman grafis memiliki sensitivitas terhadap persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, seni grafis memiliki kekuatan melalui pengulangan atau repetisi. Memungkinkan pesan atau isu dapat menyebar ke banyak tempat. "Metode seni grafis sangat dekat dengan spirit jurnalisme. Dari satu isu bisa menyebarkan pesan ke banyak tempat," ujarnya, Jumat (10/1).

Seni grafis, lanjut Sigit, bukan hanya sekadar bagian dari seni rupa. Melainkan juga bagian dari fine art, sejajar dengan lukisan dan patung. "Kebanyakan dari kami menempatkan karya di ruang publik sebagai upaya untuk merespons kekacauan yang ada di ruang publik itu sendiri," ungkapnya.

Organizer pameran Syahrizal Pahlevi mengatakan, pameran jilid ketiga ini berusaha menampilkan wajah seni cetak grafis Jogjakarta dan sekitarnya. Dia mengungkapkan, seni grafis di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal distribusi karya. Banyak seniman grafis yang karyanya belum maksimal didistribusikan meskipun sudah banyak galeri yang turut menampilkan karya mereka. “Galeri lebih fokus pada karya-karya populer atau darling, sementara seni grafis masih kalah dalam hal eksposur,” katanya.

Menurutnya, meskipun karya grafis sering ikut didistribusikan oleh galeri, proses distribusinya masih terbatas dan belum optimal. Maka, tujuan pameran ini adalah untuk memastikan seni grafis ini bisa tersebar lebih luas. Setiap studio seni, kata dia, terus berinovasi dalam hal teknik. Sementara tema urusan masing-masing seniman. Tapi siapa yang mengurus distribusinya? “Di luar negeri, event pront seperti ini sudah banyak,” ujar Pahlevi.

Demi meningkatkan distribusi seni grafis, kata dia, dibutuhkan acara khusus yang bisa menjadi wadah bagi karya-karya ini. Event semacam ini dinilai sangat penting untuk memberikan ruang bagi karya-karya grafis agar lebih dikenal oleh publik. “Memaksimalkan potensi seniman grafis yang ada,” ucap Pahlevi.

Seni grafis, kata Pahlevi, adalah seni dua dimensional seperti lukisan. Namun cara memprosesnya sedikit berbeda, yaitu harus melewati tahapan cetak terlebih dahulu. Dalam seni grafis terdapat acuan materi cetak seperti plat, logam, kayu maupun plastik. Selain itu harus ada nomor seri edisi dari setiap karya yang dihasilkan. Tujuannya agar karya seni yang dihasilkan tidak ditiru oleh orang lain, dengan kata lain terbatas. “Di pameran ini tema atau isu dibebaskan,” jelasnya. (tyo/pra)

Editor : Heru Pratomo
#cetak #seni grafis #pasar seni #Bentara Budaya Yogyakarta #Grafis #art