RADAR JOGJA - Pameran tunggal karya seni lukis Yos Suprapto bertajuk "Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan" yang dijadwalkan digelar di Galeri Nasional Jakarta pada Kamis malam, 19 Desember 2024, secara mendadak batal terlaksana.
Para pengunjung yang telah hadir tidak diizinkan untuk menyaksikan pameran tersebut, lantaran pintu galeri terkunci rapat.
Padahal, acara ini telah dipersiapkan selama setahun penuh.
Yos Suprapto, sang seniman, akhirnya angkat bicara.
Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan mendalam yang dirasakan oleh seniman tersebut.
Budayawan Eros Djarot, yang sebelumnya dijadwalkan memberikan sambutan pada pembukaan pameran, turut menyayangkan keputusan kurator.
Ia menilai tindakan tersebut mencerminkan ketakutan yang berlebihan.
Menurut Jarot, keputusan penundaan diambil setelah adanya ketidaksepakatan antara Yos Suprapto dan kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, terkait karya yang akan ditampilkan.
Jarot menjelaskan bahwa rencana pameran ini sebenarnya telah disetujui sejak 2023.
Awalnya bertajuk "BANGKIT!", tema pameran kemudian diperjelas menjadi "Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan" agar mencerminkan pesan besar tentang pentingnya pembangunan dan budaya agraris di Indonesia.
Baca Juga: Head to Head Indonesia vs Filipina, Skuad Garuda Sangat Diunggulkan, Tak Pernah Kalah Sejak 2016
Namun, dalam proses penataan, Yos Suprapto secara mandiri menambahkan beberapa karya yang tidak termasuk dalam kesepakatan awal dengan kurator.
Setelah dievaluasi, karya-karya tambahan ini dinilai tidak sesuai dengan tema kurasi yang telah ditetapkan.
Kendati upaya mediasi telah dilakukan, kesepakatan antara seniman dan kurator tidak tercapai.
Baca Juga: Pedagang Teras Malioboro 2 Dipindah Awal 2025, Paguyuban Mengaku Tak Tahu soal Proses Relokasi karena Tidak Dilibatkan
Hal ini membuat Suwarno Wisetrotomo memutuskan untuk mundur dari posisinya sebagai kurator pameran.
Sebagai langkah untuk menjaga keselarasan tema dan memastikan kualitas pameran, pihak Galeri Nasional akhirnya memutuskan untuk menunda acara tersebut hingga waktu yang belum ditentukan.
Meski demikian, kontroversi ini telah mencuatkan perdebatan di antara kalangan seniman dan pengamat seni, yang menilai bahwa kebebasan berekspresi dalam seni rupa harus tetap dijaga.
Editor : Winda Atika Ira Puspita