JOGJA – Peran permaisuri di Keraton Jogja tak sekadar pendamping raja. Karena juga terlibat dalam dalam tiga dimensi yang berbeda. Yakni, dimensi domestik, dimensi sosial-publik, dan dimensi politik.
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan KHP Nitya Budaya GKR Bendara menyebut, di Keraton Jogja, sejarah perempuan yang diwakili oleh narasi permaisuri cukup prominen.
Dikatakan, mereka adalah perempuan yang patut diperhitungkan dalam perjalanan sejarah pemerintahan di kerajaan, terutama Keraton Jawa bagian selatan.
“Keraton mencatat terdapat permaisuri yang mampu menjadi diplomat ulung, negosiator andal, bahkan pengelola tata negara yang strategis saat keterpurukan. Mereka dikenal sebagai Ratu Andayaningrat atau Gusti Kanjeng Ratu Sultan,” bebernya dalam seminar dan bedah buku bertajuk “Jejak Peradaban Keraton Yogyakarta: Perempuan di Ruang Domestik, Publik, dan Politik” di Yogyakarta Marriott Hotel, Sabtu (14/12/2024).
Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari rangkaian Pameran Parama Iswari Mahasakti Keraton Jogja. Seminar ini digelar untuk memberi ruang diskusi atas narasi konkrit perempuan
Dia berharap, seminar “Jejak Peradaban: Perempuan di Ruang Domestik, Publik, dan Politik" ini mampu memberi wacana kritis terhadap konstruksi sosial perempuan di masa sekarang.
Dari sudut pandang yang beragam, diskusi mengenai perempuan di ruang privatnya, serta peran perempuan secara profesional di publik. Hingga peran setara dan egaliter antara perempuan dan laki-laki yang dapat dipertukarkan.
“Kegiatan seminar sekaligus bedah buku ini dapat memberi pemahaman bahwa keterbukaan gender masih perlu untuk ditinjau di tengah masyarakat. Ikatan yang membelenggu dan membuat konsep setara hanya menjadi wacana dapat diminimalisir,” ujar GKR Bendara.
Seminar ini diselingi dengan diskusi membedah buku berjudul GKR Hemas: Ratu di Hati Rakyat. Mengangkat kisah perjalanan hidup GKR Hemas, salah satu sosok perempuan penting di Kraton Jogja.
Buku terbitan Kompas Gramedia itu merupakan kumpulan tulisan dari para pakar dalam melihat kehadiran perempuan di lintas sektoral untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
GKR Hemas menyampaikan, Pameran Parama Iswari sendiri merupakan media untuk mengingat sejarah dan mendiskusikan lagi peran perempuan di masa kini. Termasuk seminar dan bedah buku ini.
Menurutnya, tema tentang perempuan selalu menarik untuk dibahas. Sejarah tentang peran perempuan pada masa lalu, katanya, bisa menjadi tolok ukur bagaimana bangsa ini memiliki model perempuan-perempuan tangguh.
“Sejak dulu, perempuan menunjukkan keberanian, kepemimpinan, dan kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat di berbagai ranah,” katanya.
Dia menyebut, jika ditarik jauh ke belakang, peran perempuan di berbagai dimensi telah dilakukan oleh para permaisuri di Kraton Jogja. Seperti yang sudah ditampilkan dalam Pameran Parama Iswari.
“Peran-peran prameswari sebagai perempuan nomor satu dalam tatanan politik kerajaan diusung sebagai tawaran perspektif tentang sepak terjang perempuan di ruang-ruang publik,” ujar wakil ketua DPD RI ini.
Dia mengajak untuk melihat bagaimana perempuan memainkan perannya dalam tiga dimensi yang saling melengkapi. Guna memahami peran perempuan lebih konkret. Dimensi pertama, yakni dimensi domestik. Dimensi kedua, yakni dimensi sosial dan publik. Ketiga adalah dimensi politik.
“Harapannya bedah buku yang diselipkan di tengah seminar ini mampu menjadi bahan diskusi bagaimana potret perempuan setara hingga perempuan berkarya kepada masyarakat umum,” harap GKR Hemas.
Editor : Heru Pratomo