JOGJA - Kejujuran imajinasi anak melekat kuat dalam setiap karya yang dipajang dalam pameran lukis DIJ-Kyoto 2024. Setiap karya yang dipamerkan di Bentara Budaya Jogjakarta itu semakin menguatkan pernyataan seniman terkenal asal Spanyol Pablo Picasso bahwa 'Every Child is an artist' (setiap anak adalah seorang seniman).
Seperti karya Aiska Rusdi, anak TK ABA Kleco, Kotagede yang menggambar berbagai macam robot dengan bentuk khas gambaran anak-anak. Judul karyanya 'Robotku Penghancur Sampah'.
Sebagai anak yang masih duduk di bangku TK, karya itu mampu menggambarkan permasalahan yang seperti tak kunjung selesai di Jogja, yakni sampah. Artinya, anak itu mampu melihat dengan kritis terhadap situasi yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: Peringatan Hari Santri ke-10, Momentum Ciptakan Toleransi dan Kerukunan di Kabupaten Sleman
Banyak karya lain yang membuat pengunjung takjub. Sebab, imajinasi anak yang lahir dari pengamatan di lingkungan sekitarnya mampu divisualkan dengan jujur. Misalnya karya 'Pesawat Payung Tenaga Surya' yang dibuat siswa TK ABA AL Mujahidin, Razana Queenan Mutiara W. Dan, masih banyak karya epic lainnya.
Tiga puluh lebih karya yang dipamerkan itu merupakan hasil karya siswa-siswi TK-SMA di seluruh DIJ. Selain itu, dinamakan Pameran DIJ-Kyoto karena beberapa lukisan di antaranya merupakan karya siswa dari Kyoto, Jepang
Seorang kurator pameran Hajar Pamadhi mengatakan, anak-anak mempunyai imajinasi yang tinggi, bahkan mampu berkhayal hingga melampau batas pikiran normal.
Menurutnya, seniman sosok yang bebas berpendapat, sehingga mengambil objek sesuai imajinasinya, seperti anak-anak. "Anak masih bebas berpikir dan menebak dunia sekitarnya, seperti pikirannya," ujarnya.
Masa di mana anak mampu menembus imajinasi tinggi merupakan golden age baginya. Angan dan gagasan anak secara harfiah sebagai perkembangan mental dan pikiran anak.
Baca Juga: Terdampak Tol Jogja-Bawen, 73 Bidang Tanah di Tiga Desa di Kabupaten Magelang Dapat UGR Rp 57 Miliar
Baca Juga: Sempat Bermasalah Pilkada 2024 Tetap Gunakan Sirekap, KPU Kebumen: Sudah Ada Pengembangan
Lukisan anak merupakan catatan harian tentang diri dan lingkungannya. "Ini tergambarkan melalui lukisannya," bebernya.
Menurutnya, ulah kreatif anak dengan imajinasinya banyak tidak dimengerti oleh orang tua. Hasilnya, lukisan yang tidak sesuai dengan pikiran orang tua dianggap tidak normal dan perlu diganti sesuai pikiran orangtuanya, seolah lebih pinter dari anaknya.
"Hasil karya yang kurang realis diubah menjadi realis sesuai pikiran orang tua. Ini perusak imajinasi anak," tegasnya.
Pameran Lukis DIJ-Kyoto 2024 berlangsung sejak 21-27 Oktober 2024. Karya yang dipamerkan merupakan proses seleksi melalui lomba lukis tingkat provinsi. Tajuk yang diusung dalam pameran tersebut yakni 'Menuju Indonesia Emas, Solusiku untuk Indonesiaku". (oso/laz)
Editor : Heru Pratomo