Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

GKR Hayu Kenalkan Kebaya Keraton Yogyakarta: Unggahan Putri Sultan HB X Ini Undang Ketertarikan Warganet di Media Sosial

Tastabila Maika Warditya • Selasa, 22 Oktober 2024 | 18:32 WIB
GKR Hayu putri Sri Sultan Hamengku Buwono X.
GKR Hayu putri Sri Sultan Hamengku Buwono X.

RADAR JOGJA - Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu mulai menarik perhatian publik dengan unggahan menarik di akun Instagram pribadinya.

Pada tanggal 25 Februari 2024, putri Keraton Yogyakarta tersebut berbagi informasi eksklusif tentang berbagai jenis kebaya yang dipakai di lingkungan keraton.

Unggahannya tersebut langsung memancing rasa penasaran netizen yang kemudian membanjiri kolom komentar dengan pertanyaan seputar tradisi busana keraton.

Dalam unggahannya, putri keempat dari Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas, pemimpin Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu menuliskan tentang kebaya yang digunakan di Keraton Jogja.

Kebaya tersebut memiliki berbagai model dengan fungsi yang berbeda-beda, tergantung pada acara yang dihadiri.

Putri Sultan HB X menuliskan dengan rinci perbedaan kebaya yang dipakai dalam situasi tertentu, mulai dari acara kasual hingga perayaan formal.

GKR Hayu menuliskan jika Kebaya di Kraton Jogja memiliki model yang standar, kebaya tersebut juga ditentukan oleh detail untuk dipakai di acara yang tepat.

Berikut penjelasan dari GKR Hayu terkait berbagai jenis kebaya di Keraton Yogyakarta:

- Kebaya non-brokat: Dipakai untuk acara kasual atau internal, terutama di situasi yang panas.
- Kebaya brokat: Memiliki penggunaan yang fleksibel, bisa dikenakan di berbagai acara.
- Kebaya payetan: Cocok untuk dipakai di acara malam hari.
- Kebaya lis/renda: Digunakan pada perayaan formal.
- Kebaya beludru: Paling jarang digunakan dan sering dipakai pada kesempatan tertentu.

Tak ayal, penjelasan ini membuat para netizen semakin antusias. Banyak di antara mereka yang bertanya lebih lanjut mengenai detail kebaya Keraton Yogyakarta, seperti yang ditulis oleh salah satu netizen.

"Maaf Gusti, izin bertanya. Apakah untuk kebaya keraton yogyakarta itu memang cekak, soalnya kalau di keraton solo itu mesthi landung atau panjang. Apakah memang begitu nggih Gusti?"

GKR Hayu pun dengan ramah menjawab, "Jaman dulu ada jg yg panjang. Cuma yg sering dipakai skrg memang yg seperti ini. Dalam era HB IX banyak penyederhanaan ageman dan upacara."

Pertanyaan netizen lainnya juga menyentuh aspek tradisional yang lebih mendetail, seperti mengenai kemben yang dipakai di balik kebaya.

"Nuwun sewu Gusti Hayu...bagaimana dgn pakem pemakaian kemben sebagai daleman kebaya?bentuk kembennya seperti apa?terima kasih," tanya seorang pengguna Instagram.

GKR Hayu pun menjawab, "Kembennya ya kemben batik biasa. Kalau Putro Dalem kembennya ada motif khusus di bagian bawah, lupa namanya."

Ada juga pertanyaan menarik dari seorang netizen yang ingin mengetahui bahan kebaya yang cocok dipakai dalam cuaca dingin.

"Nuwun sewu, mau tanya. Bahan kebaya apa atau model kebaya apa yg cocok dipake untuk cuaca dingin? Pengen pake kebaya di acara formal di sini tapi bahan-bahan yg kutahu semuanya gak bisa dipake di cuaca dingin," tanya netizen tersebut.

GKR Hayu pun memberi solusi praktis, "yaaa namanya pakaian asli daerah tropis yes. Kalau utk umum mungkin bisa pake bludru, atau dalemnya pake tambahan daleman thermal."

Unggahan GKR Hayu ini menjadi ajang diskusi yang hangat di kalangan pecinta budaya dan tradisi keraton.

Antusiasme para pengikutnya menunjukkan betapa kaya dan menariknya tradisi busana keraton, terutama terkait dengan kebaya yang hingga kini tetap dijaga dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.

Sebelumnya, GKR Hayu juga memicu diskusi yang luas di media sosial, dengan banyak warganet yang mendukung GKR Hayu dan mengecam perilaku tidak sopan orang-orang yang menertawakannya karena diejek 'kampungan'.

GKR hayu memiliki pengalaman unik yang dibagikan melalui akun media sosial X, yang menarik perhatian netizen dan menjadi viral. Kisah menarik itu adalah kejadian tidak menyenangkan di ibu kota.

Baca Juga: KPAA Gelar Empat Pameran Sekaligus, Tunjukkan Budaya Tak Sekadar Pertunjukan Seni

Saat menyeberang jalan di kawasan Senayan, Jakarta, GKR Hayu secara sopan mengucapkan terima kasih kepada setiap satpam yang membantunya menyeberang.

Namun, alih-alih mendapatkan respon positif, ia justru menerima ejekan dari sekelompok orang yang menyebutnya “kampungan.”

Pas nyebrang dari Plaza Senayan ke Senayan City, aku bilang ‘Makasih Pak’ ke tiap satpam yang bantu nyebrangin.”

Baca Juga: BMKG Yogyakarta Prediksi Bakal Ada Hujan di Sleman, Berikut Penjelasan BMKG

Ia menekankan pentingnya etika dan sopan santun dalam berinteraksi dengan orang lain.

Apakah mereka yang menertawakan saya dibesarkan oleh serigala?” tulisnya dengan sentuhan humor sarkastis, menunjukkan sikapnya yang positif.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#sultan hb x #busana keraton #kampungan #puteri keraton #Putri Sultan HB X #Viral #diejek #terima kasih #Keraton Yogyakarta #GKR Hayu #GKR #Sultan Hamengku Buwono X #GKR Hayu diejek kampungan #kebaya keraton