Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Tradisi Tedhak Siten dalam Kepercayaan Orang Jawa

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 1 Oktober 2024 | 23:41 WIB
Tedhak Siten https://pin.it/3ot897FOa
Tedhak Siten https://pin.it/3ot897FOa

RADAR JOGJA -Tedhak Siten merupakan salah satu tradisi penting dalam kehidupan masyarakat Jawa yang berkaitan erat dengan perkembangan anak. Secara harfilah, “tedhak” berarti “menapakkan” dan “siten” berasal dari kata “siti” yang berarti tanah. Oleh karena itu, tedhak siten secara harfiah berarti menapakkan kaki ke tanah.

Upacara ini biasanya dilakukan ketika seorang anak menginjak usia tujuh atau delapan bulan dalam hitungan Jawa, Sebagai simbol awal langkah anak menuju kehidupan dunia yang lebih luas.

Tedhak siten mengandung makna filosofis yang mendalam, terutama terkait dengan perjalanan hidup seseorang. Dalam kepercayaan orang Jawa, upacara ini menandai bahwa seseorang anak mulai mengenal dunia luar setelah sebelumnya lebih banyak berada dalam perlindungan orang tuanya.

Upacara ini juga diyakini sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas kesehatan dan keselamatan anak hingga usia tersebut, serta doa agar anak dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri, kuat, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Prosesi tedhak siten menggambarkan perjalanan hidup manusia yang harus dilalui dengan penuh kehati-hatian, kesabaran, serta kemandirian. Orang Jawa percaya bahwa setiap manusia harus mampu menghadapi dan menaklukkan berbagai rintangan yang ada di dunia ini untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.

Tedhak siten biasanya dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang memiliki simbolisme tersendiri. Berikut adalah rangkaian prosesi yang umum dilakukan:

1.Turun Tanah.
Anak dibawa turun oleh orang tua atau kakek neneknya dari pangkuan dan kemudian ditapakkan kakinya di tanah. Ini merupakan simbol bahwa anak sudah siap untuk mengenal dunia luar dan mulai belajar berjalan dengan mandiri.

2.Meniti Tangga Tebu.
Anak kemudian diminta untuk meniti tangga yang terbuat dari tebu wulung (tebu hitam). Tebu melambangkan kehidupan yang manis meskipun memiliki banyak tantangan. Dengan meniti tangga ini, anak diharapkan dapat menjalani hidup dengan penuh perjuangan dan kerja keras.

3.Masuk ke dalam Kurungan Ayam.
Setelah meniti tangga, anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang dihiasi berbagai mainan dan benda-benda kecil seperti perhiasan, buku, atau alat tulis. Anak kemudian dibiarkan memilih salah satu benda tersebut. Pilihan anak dianggap mencerminkan minat atau bakat yang akan berkembang di kemudian hari. Misalnya, jika anak memilih buku, dipercaya bahwa ia akan tumbuh menjadi seseorang yang cerdas dan berpendidikan.

4.Lempar Uang Koin dan Sesaji.
Orang tua atau anggota keluarga lainnya akan menebar uang koin ke arah para tamu yang hadir sebagai lambang kedermawanan. Prosesi ini mengajarkan anak untuk selalu berbagi kepada sesama. Selain itu, disajikan juga berbagai jenis makanan tradisional yang memiliki makna simbolis, seperti bubur merah putih yang melambangkan keseimbangan hidup dan kebersihan hati.

5.Pemandian dan Ganti Pakaian.
Setelah semua prosesi selesai, anak akan dimandikan dengan air yang berasal dari tujuh sumber mata air, lalu dipakaikan pakaian baru. Ini menandakan harapan bahwa anak akan memulai babak baru dalam hidupnya dengan hati dan jiwa yang bersih.

Meski zaman telah berubah, tradisi tedhak siten masih dijaga dan dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat Jawa, terutama mereka yang masih memegang kuat adat dan budaya leluhur. Namun, di beberapa keluarga, tedhak siten telah mengalami sedikit modifikasi agar lebih relevan dengan kehidupan modern. Misalnya, prosesi yang dulunya diadakan dengan sangat meriah, kini bisa dilakukan secara sederhana dengan tetap mempertahankan esensi dari ritual tersebut.

Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini tidak hanya sekadar seremonial semata, melainkan sebuah wujud pengajaran nilai-nilai kehidupan kepada anak sejak dini. Melalui tedhak siten, orang tua ingin menanamkan prinsip-prinsip penting seperti kemandirian, kerja keras, kedermawanan, serta doa dan harapan untuk masa depan yang cerah bagi anak-anak mereka.

Dengan demikian, tedhak siten bukan hanya menjadi bagian dari adat istiadat, tetapi juga cerminan filosofi hidup orang Jawa yang penuh dengan makna dan kearifan lokal.

Raka Meda
Dari berbagai sumber.

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kepercayaan #budaya jawa #lempar uang logam #tedhak siten