SLEMAN - Ekspresi ungkapan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW setiap orang berbeda. Salah satu dusun di Sleman yakni Bendosari, Madurejo, Prambanan warganya memilih mengekspresikannya melalui serangkaian prosesi tradisi dan budaya Solawat Jawa yang banyak memuat nilai-nilai islam.
Perayaan Maulid Nabi warga Bendosari dilakukan setiap tahun dengan dana swadaya masyarakat. Tahun ini, sebanyak 45 ingkung atau ayam kampung disiapkan untuk prosesi kenduri dan solawatan. Ingkung tersebut nantinya akan dikirabkan mengelilingi dusun sebagai simbol pemanjatan doa.
"Ingkung memiliki arti mengayomi dari kata jinangkung dan manekung yang artinya pemanjatan doa," ujar Lurah Dukuh Bendosari, Sujarwoko saat ditemui di lokasi acara, Minggu (22/9/2024).
Acara tersebut dimulai dengan penyerahan simbolis ayam ingkung dari dukuh (kepala dusun) yang sedang menjabat kepada dukuh lama. Prosesi tersebut dimaknai sebagai ucapan terimakasih atas jasa setiap pemimpin yang pernah menjabat.
Selain itu merupakan simbol 'dongo-dinungo' atau saling mendoakan.
"Kita tidak boleh melupakan jasa-jasa para pendahulu, menghormatinya dan meneladani hal-hal baiknya," tuturnya.
Selanjutnya seluruh warga melakukan kirab kompak menggunakan busana Jawa mengelilingi dusun dengan membawa uba rampe, nasi ambengan dan puluhan ingkung tersebut. Kirab ditandai dengan pemberian panji dari Lurah Madurejo kepada bregada Dusun Bendosari.
"Setiap sudut di dusun kami sebar doa-doa baik, harapannya agar dusun terhindar dari segala mara bahaya. Selain itu, juga sebagai syiar bersolawat," jelasnya.
Setelah melakukan kirab, warga kemudian bersama-sama melantunkan solawat jawa bersama kelompok Bendo Budoyo yang dipimpin oleh 'mbah kaum'. Solawat jawa merupakan solawat yang dikemas atau dilagukan dengan langgam jawa. Alat musik yang digunakan pun perpaduan antara alat musik Timur Tengah dan Jawa.
"Ada kendang, rebana dan juga alat musik lainnya," bebernya.
Mbah Kaum Dusun Bendosari Wagiman mengatakan solawatan di Dusun Bendosari telah ada sejak zaman nenek moyang. Dulu, perayaan tersebut sangat dinantikan dan bahkan seluruh elemen masyarakat berbondong-bondong mendatanginya.
"Semakin ke sini semakin berkurang, acara ini untuk mengembalikan gaung solawatan agar meriah seperti dulu," ujarnya.
Keberadaan solawat Jawa saat ini relatif sulit ditemukan. Hal itulah yang menginisiasi Mbah Kaum untuk bertahan melestarikan budaya turun-temurun khususnya di dusun tempat tinggalnya.
"Ini sudah menjadi tradisi, jangan sampai hilang. Generasi muda supaya lebih mengenalnya," tuturnya.
Acara ditutup dengan 'Kembul Bujana' yakni tradisi makan bersama seluruh masyarakat setelah prosesi kenduri. Sebanyak 45 ingkung beserta ambengan yang dibawa warga dilahap bersama-sama. Ambengan merupakan nasi dan lauk pauk komplet yang dibawa oleh warga dalam setiap acara kenduri, khas pedesaan.
"Simbol kerukunan warga dengan makan bersama tanpa sekat," terangnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin