RADAR JOGJA - Terlahir dengan kelebihan karena memiliki kelainan genetik down syndrome, Rafa Kusuma Atmawibowo punya keahlian dalam mendalang. Bahkan hal itu menjadi terapinya.
Jari-jemari Rafa tampak lincah memainkan lakon wayang kulit dengan pendalaman dan gesture yang ekspresif.
Dalang muda berusia 16 tahun ini sudah lama memanfaatkan medium wayang sebagai terapi atas kondisi down syndrome yang disandangnya.
Siswa kelas 2 SMP di SLB Pembina Jogjakarta yang merupakan putra dari pasangan Ludy Bimasena dan Sri Wahyuni.
Proses pengenalan wayang yang awalnya sebagai bentuk terapi. Tapi kini berdampak positif karena Rafa makin suka dan serius mendalami wayang.
"Rafa sudah dikenalkan dengan kesenian wayang sejak berusia kurang dari tiga tahun, dulu awalnya menonton dari video dulu, baru akhirnya saya fasilitasi wayang," katanya, Sabtu (1/6).
Wayang sejauh ini jadi medium paling relevan untuk melatih oral atau kemampuan berbicara Rafa. Selain itu wayang juga membantu Rafa untuk meningkatkan kemampuan motoriknya.
"Kondisi Rafa ini susah untuk berbicara, dan wayang jadi salah satu cara yang bisa meningkatkan kemampuan bicaranya," ungkapnya.
"Anak dengan kondisi seperti Rafa ini peniru yang hebat, wayang membantu dia melatih gerakan motorik halus dan kasar," imbuhnya.
Ludy meyakini, pendekatan melalui wayang ini bisa jadi salah satu alternatif terapi bagi orangtua yang memiliki anak dengan kondisi seperti Rafa.
Sebagai orangtua, ia sendiri melihat ada perbedaan atau peningkatan yang terjadi pada diri Rafa setelah cukup intens belajar mendalang.
"Tentu ada sisi positif dan hasilnya, yang paling signifikan tentu kemampuan oral atau bicaranya itu," tutur warga Gedongkuning, Banguntapan ini.
Ludy sendiri secara aktif juga terlibat langsung dalam isu-isu kesetaraan, hal tersebut salah satunya dibuktikan dengan menjadi ketua Forkom difabel DIJ. Yakni persatuan orang tua dengan anak down syndrome (POTADS) se-DIJ.
"Kami harap dan inginkan bahwa anak-anak dengan kondisi tertentu seperti Rafa ini bisa mendapat hak yang sama," tegasnya.
Sang ibunda, Sri Wahyuni menuturkan, wayang rasanya akan jadi medium terapi sekaligus pembelajaran bagi Rafa sepanjang hayat.
"Anak down sydrome tidak mampu dididik, tapi mampu dilatih, jadi dengan wayang Rafa akan terus berlatih," lontarnya.
Ke depannya, baik Ludy maupun Sri kompak berharap, wayang diharapkan bisa terus membantu Rafa untuk berkembang.
Selain itu, mereka juga memiliki keinginan agar semakin banyak pihak yang memberi kesempatan bagi Rafa atau anak-anak dengan kondisi spesial.
Ludy meyakini anak-anak tersebut bisa menampilkan bakat dan kemampuan yang dimiliki, serta perlu diberikan kesempatan yang lebih inklusif.
"Sejauh ini Rafa sudah beberapa kali tampil, sekali tampil maksimal ia bisa sampai 16 menit, semoga kesempatannya bisa lebih banyak datang," tandasnya (iza).
Editor : Heru Pratomo