RADAR JOGJA - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menyelenggarakan pameran nasional karya seni rupa disabilitas pelaku seni dalam Suluh Sumurup Art Festival 2024 dengan tajuk "Jumangkah". Pameran akan digelar 14-22 Mei. Sebanyak 202 karya rupa orisinil akan dipamerkan selama delapan hari tersebut.
Kurator Pameran Suluh Sumurup Art 2024 Budi Irawanto mengatakan, ini merupakan even pameran kedua. Even pertama diselenggarakan pada 2023, berskala lokal dengan tema “Gegandengan”. Pada even pameran kedua kali ini, tema “Jumangkah” dimaknai dengan mulai melangkah untuk mencapai harapan/cita-cita. Tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, dengan meluaskan jangakauan partisipasi tidak hanya dari Jogja. “Ada juga DKI Jakarta, Banten , Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Bengkulu, Ambon, dan lainnya,”ujar Budi, Senin(13/5).
Jumangkah merupakan sebuah kata bahasa Jawa yang dalam bahasa indonesia berarti mulai melangkah atau mulai mengerjakan. Jumangkah dimaknai sebuah proses memulai langkah dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan kemampuan diri. Secara metafora, jangkah diartikan sebagai menuju cita-cita. Dalam Bahasa Jawa ada istilah jangka dan jangkah. Keduanya saling terkait. Jangka diartikan sebagai cita-cita/harapan. “Sedangkan Jangkah, adalah melakukan sesuatu untuk mencapai cita-cita," jelasnya.
Peserta yang terlibat dalam pameran tersebut mewakili berbagai tipe disabilitas baik authis, down syndrome, tuna rungu. Total seluruh peserta pameran ada kurang lebih 72 partisipan terdiri dari perorangan dan komunitas. "Selain pameran ada beberapa program yaitu workshop bahasa isyarat, ecoprint dan lainya. Suluh sumurup memberi ruang kepada para difable lewat pameran umkm dengan jumlah 11 stand," ujarnya.
Isu keseteraan dengan pemenuhan hak bagi para difable juga digemborkan dalam pameran ini. Selain itu juga menjadi wadah teman difable untuk aktif, kreatif, dan mandiri yang dibuktikan melalui karyanya. "Ini adalah bukti bahwa selama ini para difable hanya dikihat dalam konteks mereka harus dibantu, dilatih, dan seterusnya. Yang terlupakan di sini adalah mereka punya impulse kreatif berkesenian," tuturnya.
Menurutnya, seni itu itu media untuk mengekpresikan bukan hanya gagasan kreatif tetapi juga menggambarkan kondisi difabilitas. Karya-karya mereka dinilai jelas dalam mengartikulasikan ke disabilitasanya. "Kita melihat karya secara jujur mengekspresikan gagasan, kita tidak menyebut mereka seniman tapi difable pelaku seni," pungkasnya.
Salah seorang difable pelaku seni Supriyono sangat senang menjadi pserta. Da merupakan mahasiswa lulusan ISI Jogjakarta 2022. Supriyono merupakan salah seorang disabilitas tuli yang telah mengikuti pameran tersebut kedua kalinya. Saat menyampaikan pendapatnya, dirinya dibantu oleh panitia yang menerjemahkan bahasa isyarat."Untuk acara ini dengan tujuan kesetaraan saya sangat mendukung. Saya berharap kegiatan ini terus berlanjut terlebih kepada temen-temen difabel di Indonesia bisa ikut," pungkasnya. (oso/din)
Foto : Elang Kade
Editor : Satria Pradika