RADAR JOGJA - Sebagai putera Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) III, Bendara Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro tak bermimpi untuk menjadi penerus ayahnya. Itu karena dia menyadari adik tirinya GRM Ibnu Jarot yang lebih layak jadi Sri Sultan HB IV. Keduanya pun sangat dekat bahkan diibaratkan seperti kedekatan tokoh pewayangan Kresna dan Arjuna.
Kedekatan antara Pangeran Diponegoro dengan adik tirinya yang berbeda usai hampir 19 tahun itu jadi salah satu adegan yang ditampilkan dalam Opera Jawa Diponegoro 'Perang Jawa 1825-1830' yang untuk memperingati Haul Pangeran Diponegoro. Digelar oleh Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) di Amphitheater Purawisata pada Minggu (12/11) malam.
Dalam Opera Jawa Diponegoro yang disutradarai oleh Anter Asmorotedjo tersebut dibagi dalam sembilan reronce adegan dengan durasi satu jam. Dengan flashback diawali dari kisah balik awal Perang Jawa dengan latar lukisan Raden Saleh 'Penangkapan Pangeran Diponegoro'. "Fokus kisah pada Perang Jawa, penyebabnya hingga kisah dari awal kelahiran Pangeran Diponegoro," kata Anter ditemui sebelum pementasan.
Anter menambahkan, dalam adegan juga ditampilkan saat bayi RM Mustahar, nama kecil Diponegoro, ditimang oleh kakeknya Sri Sultan HB I. Sebagai raja yang linuwih, HB I sudah meramalkan jika di masa depan RM Mustahar akan membawa kerusakan besar terhadap Belanda. Bahkan lebih besar dari yang pernah HB I lakukan sebelumnya.
Adegan berikutnya, RM Mustahar yang berada di bawah perawatan permaisuri HB I GKR Ageng tumbuh jadi anak yang menjunjung tinggi agama dan tata krama. Sehingga saat dewasa, yang telah berganti nama jadi RM Ontowiryo jadi pemuda yang cerdas, tegas dan berwibawa. Punya hubungan akrab dengan adik tirinya GRM Ibnu Jarot, yang kelak jadi Sri Sultan HB IV. "Meski lebih tua Pangeran Diponegoro paham yang lebih layak jadi raja adalah adik tirinya (GRM) Ibnu Jarot, karena lahir dari ibu yang merupakan permaisuri Sri Sultan HB III," kata Ketua Umum Patra Padi R. Rahadi Saptata Abra.
Abra menambahkan, Opera Jawa Diponegoro ini jadi kali pertama dipentaskan. Karena itu tema yang diambil secara umum kisah sang pangeran. Terutama terkait dengan penyebab Perang Jawa. Yang tak hanya karena patok tanah yang dipasang Belanda melewati tanah leluhur. "Penyebabnya yang lain di antaranya adanya pajak hingga 32 macam, hak-hak petani yang dirugikan Belanda sampai gaya hidup kebarat-baratan yang bertentangan dengan Islam," jelasnya.
Sebagai referensi, baik Abrar maupun Anter mengaku menggali dari berbagai sumber. Abrar mencontohkan seperti Babad Diponegoro, yang banyak versi. Ditambah lagi mahakarya Peter Carey, Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855.
Opera Jawa Diponegoro kali pertama dipentaskan ini, kata Abrar, juga untuk memperingati haul Pangeran Diponegoro pada 11 November. Ditujukan untuk menjalin silaturahmi keturunan Pangeran Diponegoro di mana pun. Dipentaskan dalam bentuk opera karena Patra Padi menilai lebih bisa diterima oleh kalangan muda. "Untuk tetap mensyiarkan perjuangan Pangeran Diponegoro bagi generasi saat ini," ungkapnya.
Editor : Heru Pratomo