RADAR JOGJA - Indonesia memiliki kekayaan yang sangat berlimpah disebabkan dari faktor geografi, ekosistem dan astronomis.
Disisi lain, juga kaya dengan kebudayaan yang menghasilkan berbagai macam kesenian.
Salah satu kesenian yang dimiliki Indonesia adalah Wayang Beber.
Melansir dari laman Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) Wayang Beber sudah ada semenjak Kerajaan Jenggala pada zaman Prabu Suryawisesa yakni, pada 1145 masehi.
Sekitar tahun 1244 masehi, ketika Prabu Suryahamilur menjadi Raja Jenggala dan memindahkan Kraton ke Pajajaran (Jawa Barat), dia mengembangkan cerita Wayang Beber ke dalam media kertas yang dibuat dari bahan baku kayu murberry yang disebut Kertas Dluwang.
Asal usul Wayang Beber disampaikan Pengamat Budaya Edi Sedyawati, terdapat di tiga tempat.
Pertama, Wayang Beber Pacitan dari Desa Gedompol, Pacitan. Wayang Beber di lokasi ini sudah ada pada 1902.
Keberadaan Wayang Beber dijaga oleh generasi ke-16 dari keluarga Sokimin dan dilanjutkan oleh anak Tri Hartanto yang menjaga pusaka Wayang Beber tersebut.
Wayang Beber ini, menceritakan kisah asmara Jaka Kembar Kuning dengan Dewi Sekartaji.
Kedua, Wayang Beber Pacitan Gelaran. Wayang beber ini berada di daerah Gunung Kidul yang disimpan oleh keluarga Wisto Utomo.
Wisto Utomo sendiri selaku pewaris generasi- 15 yang diturunkan dari kakeknya Kramo Sentono. Wayang Beber ini menceritakan kisah mengenai Rameng Mangun Jaya.
Ketiga, Wayang Beber yang Leiden, berada di Museum Leiden. Pada tahun 1883 hingga saat ini, sebelum berada di tempatnya sekarang, Wayang Beber ini dijual dan berpindah sebanyak dua kali sebelum di Museum Vulkenkunde, leboih dulu berada di Negara Netherland.
Tri Hartanto penerus warisan Wayang Beber Desa Gempol sekaligus dalang Wayang Beber mengatakan Wayang Beber ini sejatinya adalah spirit atau jiwa juang. Wayang Beber menjadi pusaka identitas nasional negara Indonesia.
"Saat ini tinggal menggembangkannya saja," katanya. Wujud pelestarian dalam rangka pengembangan kesenian Wayang Beber dengan nilai-nilai kontemporer sudah ada. Antara lain seperti. Wayang Beber Kota, Wayang Beber Tani, Wayang Beber Pancasila dan lain sebagainya. (Putri Hanna Faridah)
Editor : Meitika Candra Lantiva