RADAR JOGJA - Tumbuh besar di lingkungan yang kental dengan budaya batik benar-benar dimanfaatkan oleh Richo Ade Arvian. Pemuda 28 tahun asal Tamansari tersebut mengombinasikan metode batik tulis dan juga lukis dalam brand yang diproduksinya.
Astarupa merupakan brand dari Richo sudah dijalankan sejak 2016 silam dan berfokus untuk memproduksi kaus batik dan kaus lukis. "Batik yang kami produksi itu batik tulis, dan untuk kaus lukis ya benar-benar dilukis menggunakan kuas lukis," jelasnya pada Radar Jogja Selasa (15/8/23).
Richo mengungkapkan, ide menggabungkan teknik membatik dan juga melukis datang dari usaha clothing yang sebelumnya pernah dijalankan. Ditambah dirinya juga memiliki latar belakang melukis yang dipelajarinya secara otodidak. "Untuk bakat membatik bisa dibilang turunnya dari nenek dan orang tua, kalau melukis belajar sendiri, soalnya saya kuliah jurusan komputer," ungkapnya.
Diakui Richo, Astarupa banyak diminati oleh turis baik lokal maupun mancanegara. Karena proses produksi Richo sendiri juga berada di area rumahnya yang menjadi rute perjalanan para pengunjung di Tamansari.
Tak jarang, Richo pun memberikan workshop bagi para pengunjung yang hadir secara langsung di tempatnya. "Dadakan, paling cuma empat sampai lima orang. Karena juga tempatnya terbatas," paparnya.
Dalam pemasaran, Richo juga menitipkan produknya di beberapa spot oleh-oleh. Seperti Dagadu, Yogyakarta International Airport (YIA), hingga di tempat suvenir Candi Ratu Boko.
Selain itu dirinya juga kerap terlibat dalam pameran expo UMKM. Baik di DIJ bahkan hingga ke luar kota. "Beberapa kali ke luar kota produk saya pernah dibeli Pak Tantowi Yahya dan Sandiaga Uno," sebutnya.
Dalam periode tahunan, jumlah pembeli Astarupa umumnya akan meningkat seiring dengan jumlah kunjungan wisatawan di kawasan Tamansari. "Itu salah satu indikator, ketika liburan dan Tamansari ramai, umumnya pengunjung ke sini juga tambah ramai," lontarnya.
Perihal harga, Richo mematoknya dari Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu. Namun angka tersebut juga bisa berubah-ubah ketika dirinya menerima orderan kustom. "Kalau dibilang mahal ya karena desain antar kaus pasti tidak ada yang sama satu dengan lainnya," sebutnya.
Ke depannya, Richo berharap untuk dapat melebarkan pasar dengan memproduksi baju lukis yang peruntukannya bisa digunakan dalam acara formal. "Untuk baju saya pernah bikin juga, tapi itu lebih susah dan waktunya lebih lama, jadi ingin bisa konsisten buat," tandnasnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika