Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Drape and Wrap, Keresahan Lima Perempuan dalam Sebuah Karya Tari

Editor News • Senin, 27 Februari 2023 | 21:47 WIB
KOLABORASI : Drape and Wrap, karya kelima seniman di Ada Sarang, Minggu malam (26/2). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
KOLABORASI : Drape and Wrap, karya kelima seniman di Ada Sarang, Minggu malam (26/2). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Keresahan lima seniman perempuan terangkum dalam pementasan Drape and Wrap. Bertempat di Ada Sarang, Kasihan Bantul, kelimanya berkolaborasi dalam sebuah pementesan tari. Mereka adalah Paranditya Wintarni, Kinanti Sekar Rahina, Mila Rosinta Totoatmojo, Enji Sekar dan Dilla Auliya Dina alias Tapi Aku Suka.

Awalnya, kelima seniman hadir dengan karyanya masing-masing. Tema yang dipilih sesuai dengan keresahan secara personal. Seperti Paranditya yang mengusung cerita perjalanannya sebagai seorang penari. 

“Keresahan memoriku tentang almarhumah ibu dan kerinduan saya,” jelasnya sesuai tampil, Minggu malam (26/2).

Karya yang diaper hadirkan merupakan kenangan semasa kecil hingga dewasa. Bagaimana dia mengenal tari dari almarhumah ibunya. Berawal dari sering melihat hingga akhir menekuni secara serius.

Kebiasaan kerap mendengarkan gending dan melihat gerak tari membuatnya terpanggil. Hingga menjadi tari sebagai bagian dari hidupnya. Terutama atas inspirasi yang dia lihat dari sosok ibu.

“Menari memang dari kecil karena lingkungan. Dulu waktu kecil ibu berproses aku belajar sudah setiap hari mendengarkan suara irama gending. Jadi waktu ibu berproses, setiap hari ikut latihan,” katanya.

Saat ditanya apakah akan terus berkarya, dia mengamini. Paranditya menganggap tari sudah menjadi bagian dari jiwanya. Tak sekadar menghadirkan karya namun juga merangkum keresahan.

“Harus terus menari,” ujarnya.

Kinanti Sekar Rahina hadir dengan dengan karya Pandonga. Merupakan wujud doa yang hadir dalam sebuah karya tari. Dia ingin bercerita bahwa doa bisa terwujud dalam apapun namun nilainya tetap sakral. 

“Pandonga ini sebuah doa dari seorang penari untuk segalanya. Bermasyarakat ada, bersosialisasi ada, ekspresi yang muncul beragam. Doa kusyuk kami dengan menari,” katanya.

Sekar, sapaannya, juga menilai pementasan kali ini adalah reuni. Ini karena mereka tak pernah bertemu sejak Pandemi Covid - 19. Sehingga perjumpaan ini tergolong perdana dalam merangkum karya-karya terbaru.

“Panggung ini reuni kami. Saya sudah jarang ketemuan sama Mila dan lainnya. Tentu senang bisa bertemu kembali dan saling berproses bersama,” kesannya.

Dalam pementasan ini keempat penari mengakhiri dengan karya Drape and Warp. Konsep karya dikuatkan dengan tata panggung. Berupa lilitan kain berwarna putih yang terjuntai dari atas ke bawah. 

Kain inilah yang kemudian membungkus para penari. Setelahnya dipotong oleh sosok stylist bernama Dilla yang terkenal dengan nama panggung Tapi Aku Suka. Maknanya kebebasan untuk menjadi diri sedniri dan terlepa dari stigma tentang sosok perempuan. 

“Keresahan pertama karena mereka perempuan selalu menjadi objek. Ditunjukan dengan kain dari Kudil. Lalu dipotong dan setiap penari bisa bergerak bebas,” kata Marcom Ada Sarang Babam. 

Ada Sarang sendiri secara konsisten menghadirkan karya - karya para seniman. Berupa program yang mendukung seniman untuk tampil. Terutama untuk mengekspose karyanya ke khalayak luas. 

“Sebenarnya satu seniman, tapi kali ini kami bertemu dengan lima perempuan hebat. Lalu berkolaborasi dan lahirlah karya Drape dan Wrap,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News
#seniman tari #koregrafer tari #Drape and Wrap #Ada Sarang