Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Grha Keris, Tempat Bernaung Pecinta Keris Gaya Jogjakarta

Editor News • Selasa, 23 Agustus 2022 | 00:06 WIB
APRESIASI : Gubernur DIJ Hamengku Buwono X melihat keris yang dipamerkan di Grha Keris Pendopo Gamelan, Senin (22/8). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
APRESIASI : Gubernur DIJ Hamengku Buwono X melihat keris yang dipamerkan di Grha Keris Pendopo Gamelan, Senin (22/8). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) meresmikan Grha Keris di Pendopo Gamelan, Kemantren Kraton Kota Jogja, Senin (22/8). Aksi ini sebagai upaya pelestarian keris khususnya gaya Jogjakarta. Termasuk wujud edukasi tentang khasanah dan peninggalan keris pusaka.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) menceritakan menuturkan keris memiliki nilai sejarah yang tinggi. Berdasarkan catatan sejarah ditemukan pertama kali pada relief Candi Borobudur. Tepatnya pada medio abad ke VIII.

"Keris memiliki tiga aspek estetik yaitu dhapur yang berarti bentuk, pamor yang berarti pola dekorasi pada bilah dan tangguh yang berarti proses interpretasi mengenai asal usul hingga estimasi usia pembuatan," jelasnya ditemui di Pendopo Gamelan Kemantren Kraton, Senin (22/8).

Photo
Photo
WARISAN : Pengunjung melihat keris peninggalan jaman dulu yang dipamerkan di Grha Keris Pendopo Gamelan, Senin (22/8). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Pada masa lalu, lanjutnya, keris berfungsi sebagai senjata dalam peperangan. Disatu sisi juga sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris menjadi aksesori dalam berbusana dan menjadi simbol budaya.

Sarung keris juga memiliki jilia filosofi tinggi. Berupa Manunggaling Kawula Gusti. Memiliki makna persatuan, keselarasan dan keharmonisan manusia dengan pencipta.

"Keris juga kaya akan filosofi melingkupi fisiknya. Warisan budaya yang resmi diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda pada tahun 2005 ini memiliki kedalaman makna dalam setiap wilah-nya," katanya.

Inilah yang menjadi landasan berdirinya Grha Keris. Tak hanya sebagai wujud penghargaan tapi juga pelestarian. Juga menjadi sumber inspirasi nilai budaya Jawa.

"Saya optimis, dengan adanya Grha Keris, keberadaan warisan budaya yang ada di Jogjakarta akan lebih maju dan berkembang dengan lebih baik lagi. Dapat menjadi inkubator pelestarian budaya berbasis karya cipta, dengan para empu, komunitas tosan aji, dan para perajin  sebagai penggeraknya," ujarnya.

Ketua Umum Paheman Memetri Wesi Aji RM Kimyun Marsindra mengapresiasi hadirnya Grha Keris. Menurutnya, tempat ini dapat menjadi tempat berkumpulnya para pecinta keris. Tak hanya kolektor tapi juga pengrajin maupun empu.

Pria yang dianugerahi nama KRT Puspodiningrat oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mengakui bahwa pelestarian keris masih suram. Terutama untuk empu pembuat keris pusaka. Berbanding terbalik dengan pengrajin keris untuk kebutuhan asesoris.

"Prihatin profesi empu saat ini semakin langka. Di Jogjakarta tinggal 1 yang tradisionil, Ki Sungkowo. Tapi ada beberapa yang bermunculan yang muda di Wonosari. Itu juga sudah lumayan karyanya tapi karena perkembangan jaman beliau tidak secara tradisional lagi," katanya.

Tradisional dalam artian disini adalah lelaku. Berupa seremonial tradisional saat sebelum membuat hingga keris jadi. Seluruhnya dilakoni dengan beragam ritual kearifan lokal. Lelaku biasanya dilakoni untuk membuat keris pusaka.

Tradisi ini kerap dilakoni para empu jaman dahulu. Sayangnya untuk saat ini pelestarian tidak berjalan optimal. Sehingga tidak semua pembuat keris bisa berstatus empu.

"Harapannya keris yang dihasilkan bisa bermanfaat bagi pemesannya. Kalau sekarang bisa dikatakan pengrajin meski sudah banyak karyanya tapi untuk masalah laku (lelaku) belum dilakukan seperti empu yang dulu. Itulah mengapa ada klasifikasi keris, keris souvernir lalu keris pusaka, itu beda kelasnya," bebernya. (Dwi) Editor : Editor News
#Hamengku Buwono X #keris gaya Jogjakarta #grha keris Jogjakarta #Kundha Kabudayan #pendopo gamelan #warisan keris