Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) menceritakan menuturkan keris memiliki nilai sejarah yang tinggi. Berdasarkan catatan sejarah ditemukan pertama kali pada relief Candi Borobudur. Tepatnya pada medio abad ke VIII.
"Keris memiliki tiga aspek estetik yaitu dhapur yang berarti bentuk, pamor yang berarti pola dekorasi pada bilah dan tangguh yang berarti proses interpretasi mengenai asal usul hingga estimasi usia pembuatan," jelasnya ditemui di Pendopo Gamelan Kemantren Kraton, Senin (22/8).
Pada masa lalu, lanjutnya, keris berfungsi sebagai senjata dalam peperangan. Disatu sisi juga sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris menjadi aksesori dalam berbusana dan menjadi simbol budaya.
Sarung keris juga memiliki jilia filosofi tinggi. Berupa Manunggaling Kawula Gusti. Memiliki makna persatuan, keselarasan dan keharmonisan manusia dengan pencipta.
"Keris juga kaya akan filosofi melingkupi fisiknya. Warisan budaya yang resmi diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda pada tahun 2005 ini memiliki kedalaman makna dalam setiap wilah-nya," katanya.
Inilah yang menjadi landasan berdirinya Grha Keris. Tak hanya sebagai wujud penghargaan tapi juga pelestarian. Juga menjadi sumber inspirasi nilai budaya Jawa.
"Saya optimis, dengan adanya Grha Keris, keberadaan warisan budaya yang ada di Jogjakarta akan lebih maju dan berkembang dengan lebih baik lagi. Dapat menjadi inkubator pelestarian budaya berbasis karya cipta, dengan para empu, komunitas tosan aji, dan para perajin sebagai penggeraknya," ujarnya.
Ketua Umum Paheman Memetri Wesi Aji RM Kimyun Marsindra mengapresiasi hadirnya Grha Keris. Menurutnya, tempat ini dapat menjadi tempat berkumpulnya para pecinta keris. Tak hanya kolektor tapi juga pengrajin maupun empu.
Pria yang dianugerahi nama KRT Puspodiningrat oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mengakui bahwa pelestarian keris masih suram. Terutama untuk empu pembuat keris pusaka. Berbanding terbalik dengan pengrajin keris untuk kebutuhan asesoris.
"Prihatin profesi empu saat ini semakin langka. Di Jogjakarta tinggal 1 yang tradisionil, Ki Sungkowo. Tapi ada beberapa yang bermunculan yang muda di Wonosari. Itu juga sudah lumayan karyanya tapi karena perkembangan jaman beliau tidak secara tradisional lagi," katanya.
Tradisional dalam artian disini adalah lelaku. Berupa seremonial tradisional saat sebelum membuat hingga keris jadi. Seluruhnya dilakoni dengan beragam ritual kearifan lokal. Lelaku biasanya dilakoni untuk membuat keris pusaka.
Tradisi ini kerap dilakoni para empu jaman dahulu. Sayangnya untuk saat ini pelestarian tidak berjalan optimal. Sehingga tidak semua pembuat keris bisa berstatus empu.
"Harapannya keris yang dihasilkan bisa bermanfaat bagi pemesannya. Kalau sekarang bisa dikatakan pengrajin meski sudah banyak karyanya tapi untuk masalah laku (lelaku) belum dilakukan seperti empu yang dulu. Itulah mengapa ada klasifikasi keris, keris souvernir lalu keris pusaka, itu beda kelasnya," bebernya. (Dwi) Editor : Editor News