Tak hanya seniman, karya-karya yang tersaji juga ada dari 6 kolektif seni. Seluruhnya telah melalui proses kurasi yang ketat. Tepatnya oleh Suwarno Wiserotomo, Asmujo Jono Irianto dan Rain Rosidi.
"Dalam kajian budaya, konvergensi dimaksudkan sebagai penggabungan sesuatu yang tadinya berbeda-beda, utamanya dalam konteks industri komunikasi dan teknologi yang menyertainya. Diselenggarakan dalam rangka memperingati 125 tahun R.J. Katamsi," jelas salah seorang kurator Asmujo Jono ditemui di Galeri R.J Katamsi ISI Jogjakarta, Kamis (11/8).
Beberapa perupa yang terlibat dalam pameran ini diantaranya Butet Kertaredjasa, Farid Stefy, Arahmaiani, Titarubi, Anusapati, Eko Nugroho, FX Harsono. Adapula Heri Dono, I Nyoman Masriadi, Nasirun, Nindityo Adipurnomo, Oky Rey Montha, Putu Sutawijaya, Tisna Sanjaya, Ugo Untoro dan Theresia Agustina Sitompul.
Sementara karya kolektif adalah karya dari Ace House Collective, Gegerboyo, Ruang MES56, HONF, Barasub, dan LepasKendali. Semua karya yang terjadi terdiri dari karya lama hingga karya terbaru.
"Kami juga akan melibatkan musisi. Sebut saja Trengginas, Prontaxan, Dj Ayash, Oom Leo Berkaraoke, serta performing art dari Moelyono, Bonyong Munni Ardhi, dan Barasub," katanya.
Pameran seni rupa ini sekaligus menjadi peringatan Harlah ke-72 ASRI. Akronim dari Akademi Seni Rupa Indonesia ini merupakan cikal bakal lahirnya ISI Jogjakarta. Itulah mengapa karya menjadi sebuah refleksi bersama.
Karya, lanjutnya, menghadirkan potret dinamika pendidikan seni di Indonesia. Tak hanya hadir sebagai sebagai karya seni tapi juga wujud kritik. Tentunya dikemas dengan estetik jiwa berkesenian.
"Seperti diigitalisasi merupakan contoh nyata. Dampak teknologi digital ini mengubah banyak hal, antara lain penjelajahan, transmedia, volume jarak, waktu, dan lain-lainnya," ujarnya.
Berangkat dari keresahan ini munculah 64 karya yang tersaji dalam Konvergensi: Pasca-Tradisionalisme. Karya yang dipamerkan tidak hanya seni konvensional tapi juga multimedia. Dengan masuknya unsur audio dan visual dan sebuah karya.
"Harapannya dengan diadakannya pameran ini dunia tinggi seni hari ini dapat menyadari pentingnya posisi mereka. Agar berani melakukan terobosan dalam banyak hal, dengan dukungan data dan manajemen informasi yang memadai," katanya.
Asmujo sedikit berbicara tentang sosok R.J Katamsi. Sosok ini merupakan tokoh seni rupa periode seni rupa modern Indonesia. Tak hanya berkarya sebagai seniman tapi juga akademisi.
"Menjadi direktur pertama ASRI sebuah lembaga pendidikan hasil dari buah pikiran dan ikhtiar bersama dari Kongres Kebudayaan tahun 1948 di Magelang. ASRI dibawah kepimpinan Katamsi menjadi sebuah kampus seni yang dinamis dan progresif," ceritanya.
Pameran konvergensi: Pasca-Tradisionalisme terbuka untuk umum. Hanya saja harus melakukan reservasi dahulu sebelum melihat karya. Terbuka setiap hari bagi pengunjung. (Om28/Dwi) Editor : Editor News