Berlangsung di Galeri R.J. Katamsi, pameran ini menghadirkan pameran yang tak biasa. Sesuai objek pameran, seluruh karya hadir dalam bentuk visual. Tepatnya dalam dunia maya yang terwujud dalam NFT.
“Sejak populer mulai tahun 2017, NFT mengalami perkembangan cukup pesat sampai sekarang. Meski popularitas NFT saat ini masih terbatas di dunia seni, hobi, dan hiburan, namun tidak bisa dipungkiri adanya potensi besar pengaplikasian NFT dalam banyak sektor,” jelas Rektor ISI Jogjakarta M. Agus Burhan saat pembukaan pameran, Sabtu (9/4).
Ajang ini, lanjutnya, menjadi jembatan bagi para kreator, kolektor dan pegiat NFT. Pameran ini juga mengajak masyarakat untuk memasuki dunia blockchain. Agar mengenal salah satu aset digital berbasis teknologi yang sedang populer ini.
Selain itu, pameran ini juga menjadi titik pertemuan berbagai ragam kreatifitas. Baik dalam seni maupun teknologi, hiburan dan budaya populer lainnya.
“Kita mesti berada dalam gelombang ini, jangan sampai kita tak bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri dalam gelombang baru industri Blockchain dan metaverse ini,” katanya.
Founder Art Pop Up Intan Wibisono mengatakan bahwa Jogjakarta menjadi pionir Indo NFT Festiverse. Ini karena potensi seni rupa digital maupun fisik yang sangat luas. Ditambah adanya inovasi karya menjadi sebuah wujud NFT.
Pameran, lanjutnya, berlangsung selama sembilan hari, tepatnya hingga 17 April 2022. Pameran menjadi wadah kreatif para kreator NFT di Jogjakarta. Pada awalnya tercatat ada 300 kreator yang mendaftar.
"Kreatornya pendaftar 300 karya yang masuk. Terus ada verifikasi untuk tahu manusia atau bukan. Sifatnya bukan kurasi tapi verifikasi ya," ujarnya.
Dalam ruang pamer terbagi dalam beberapa ruang pamer. Diantaranya adalah ruang primary dan secondary. Perbedaaannya, karya primary adalah karya langsung dari kreator ke marketplace.
"Kalau secondary market berasal dari kolektor yang sudah membeli karya kreator. Uniknya yang kreator di primary atau secondary tetap bisa dapatkan sesuatu dari karya atau royalti," katanya.
Penasehat pameran Rain Rosidi menuturkan Indo NFT Festiverse merupakan tonggak awal. Berupa mengenalkan dunia digital tempat NFT bernaung. Lebih tepatnya mengarah pada dunia metaverse.
Hadirnya pameran Indo NFT Festiverse, lanjutnya adalah sebuah portal atau pintu masuk. Untuk mengenalkan konsep dan karya dalam NFT. Terlebih seluruh karya tersimpan dan dinikmati dalam dunia maya.
"Arahnya metavese walaupun belum sampai ke metaverse secara keseluruhan, tapi ruangan di dunia Maya bukan nyata. Jadi ide pameran di duniat nyata ini sebagai portal atau masuk ke ruang selanjutnya di metaverse," ujarnya.
Karya-karya yang hadir dalam pameran merupakan sampel. Untuk menikmati versi lengkap tetap harus menuju ruang pamer digital. Caranya dengan memindai QR code yang terdapat dalam setiap pigura karya.
"Karya ini tidak berada disni ini hanya tampilan bayangan yang ada di NFT atau marketplace masing-masing. Jadi ide pameran ini sebagai portal," katanya.
Hadirnya NFT juga menjadi solusi bagi para seniman. Agar karyanya tidak dicuri dalam dunia digital. Diketahui selama ini karya digital kurang terlindungi. Karya kerap dicopy, dimanipulasi tanpa seijin sang kreator.
"Kalau komunitas sebenarnya sedikit tapi cukup solid. Meski tak bertemu secara fisik tapi saling berkomunikasi lewat media sosial dan berkunjung melalui platform," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News