Terpesona Liong Milik Hoo Hap Hwee
JOGJA – Ribuan warga tumplek blek di Kawasan Maliboro hingga Alun-Alun Utara tadi malam (5/2). Mereka menunggu aksi barongsai dan liong serta penampilan peserta karnaval yang menandai dibukanya Pekan Budaya Tionghoa Yogya-karta (PBTY) ke-12
Mengusung tema Pelangi Budaya Nusantara, event tahu-nan ini tak hanya menghadirkan kesenian Tionghoa saja. Juga menghadirkan berbagai pesona kesenian dari daerah. Penam-pilan tarian Rantak, Edan-eda-nan, Jathilan, tarian Show Ayam, Kolosal Gedruk, Drumband, Naga Batik Raksasa dan lainnya ditunggu-tunggu warga.
Meskipun acara tahunan ini merupakan agenda mempe-ringati Imlek, dengan tema ter-sebut diharapkan dapat mene-gaskan inklusivitas PBTY bukan hanya milik warga Tionghoa, melainkan untuk semua ma-syarakat Indonesia.
Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X, dalam sambu-tannya mengatakan, PBTY yang menjadi agenda kepariwisataan nasional diharapkan menjadi media integrasi budaya. Serta dapat mengarah pada integrasi sosial yang membantu mewu-judkan Indonesia yang maju dan berkeadilan.
HB X berharap, event ini bisa menjadi acara rekreasi sejenak di tengah situasi politik saat ini. "Pelaksanaan PBTY selama se-minggu bisa menjadi persing-gahan sejenak ditengah maraknya ujian kebencian yang mengarah pada disintegrasi bangsa," ujar HB X saat membuka PBTY di Alun-Alun Utara tadi malam.
Menurut HB X, dalam tahun baru Tiongkok, saat ini merupa-kan tahun ayam api yang memi-liki panas berlebih dan kurang baik untuk kehidupan. Hal itu, jelas dia, sudah dirasakan bela-kangan ini selama masa pemili-han kepala daerah (pilkada) di 101 daerah di Indonesia, yang bertaburan informasi hoax.
HB X meminta warga supaya lebih berhati-hati dalam perka-taan maupun perbuatan karena rawan direkayasa. HB X juga berharap, gelaran PBTY selama satu minggu bisa membawa dampak ekonomi.
Tahun ini merupakan kedua kalinya PBTY digelar selama sepekan. "Semoga dampaknya bukan hanya di Ketandan saja, tapi juga daerah dan sektor lain-nya di DIJ," ujar suami GKR Hemas itu.
Dalam pembukaan tersebut HB X juga memasangkan tanda kain hitam pada kepala naga atau liong dari Perkumpulan Hoo Hap Hwee yang berumur 104 tahun.
Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural Hari Untoro Derajat juga berharap gelaran PBTY bisa menjadi daya tarik wisata di DIJ. Terlebih di kawa-san Jogja, Solo, dan Semarang (Joglosemar) pada tahun ini ditargetkan bisa menarik kun-jungan wisatawan mancane-gara hingga dua juta orang.
Hari juga menyebut PBTY yang mengusung berbagai budaya membuktikan kekayaan DIJ. "Penampil dari Papua hingga Aceh, bahkan ada dari Jepang dan India menandakan Jogja itu sangat menarik," ungkapnya.
Sementara itu, karnaval PBTY yang dimulai dari Bangsal Ke-patihan menuju Alun-Alun Utara tak henti-hentinya mem-buat decak kagum warga yang menyaksikan. Menampilkan kesenian Barongsai, Tarian Show Ayam, Tari Kolosal Gedruk, Drumband, Naga Batik Raksasa, Naga LED, dan Naga Transparan.
Selain itu, karnaval juga diikuti oleh ratusan peserta yang me-nampilkan kostum budaya nu-santara dari 34 provinsi.Terpisah, Sekjen Hoo Hap Hwee Tjundaka Prabawa mengatakan, liong yang dibawa oleh sekitar 30 orang yang ditampilkan dalam pembukaan PBTY merupakan liong yang melalui ritual khusus. "Jadi tidak sembarang orang bisa membawa liong itu," jelasnya.
Tjundaka mengungkapkan, mereka mempersiapkan atrak-si tersebut selama empat bulan. Dia juga menuturkan, komuni-tasnya sejak awal sudah berkon-tribusi dalam PBTY.Di sisi lain, warga juga me-menuhi Kampung Ketandan.
Di sana, panitia PBTY telah menyiapkan banyak penampi-lan dan hiburan menarik. Mu-lai dari stan makanan nusan-tara, pemilihan Cici dan Koko, serta sarasehan batik peranakan. Acara selama sepekan nanti juga diisi hiburan musik, wayang potehi, dan berbagai lomba. (ita/pra/ila/ong) Editor : Administrator