Mereka yang tergabung dalam Paguyuban Banyubening di Taruban, Tuksana, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo. Pengukuhan tidak terlepas dari konsistensi Hasto melestarikan budaya Jawa di Kulonprogo.
"Kiprah beliau (Hasto Wardoyo) melestarikan seni dan kebudaya di Kulonprogo sangat membanggakan," kata Ketua Paguyuban Banyubening Katamsa didampingi Wakil Ketua Suryadi, Minggu malam (1/1).
Katamsa mengatakan Hasto dinilai peduli kebudayaan saat menjabat sebagai Bupati Kulonprogo 2011-2016. Tidak hanya karena figurnya yang sangat kental dengan budaya Jawa, dia juga dinilai memiliki militansi membangun masyarakat Kulonprogo berbudaya.
"Salah satu buktinya, pak Hasto berani membentuk Dinas Kebudayaan di Kulonprogo. Dinas Kebudayaan yang berdiri sendiri itu satu-satunya di DIJ bahkan di Indonesia," jelas Katamsa.
Ketua Dewan Kebudayaan Kulonprogo Sudarta mengatakan pribadi Hasto sangat pas menerima gelar tersebut. Kepeduliannya terhadap kebudayaan sangat tinggi.
"Pak Hasto pantas dijadikan contoh, baik laku dan celathunya (perbuatan dan ucapannya). Budaya adiluhung tidak pernah dilepaskan saat menjadi bupati," ungkap Sudarta.
Sejak memimpin Kulonprogo, seni dan budaya masyarakat terus diangkat. Baik budaya dalam lingkup kehidupan (kearifan lokal) hingga budaya dalam pemenuhan hidup.
"Program Bela Beli Kulonprogo merupakan langkah membela dan memperjuangkan budaya Kulonprogo. Terangkat di kancah regional dan nasional. Kulonprogo menciptakan produk budaya sendiri, dan itu mendapat pengakuan dari luar," jelas Sudarta.
Banyak seni dan budaya yang sudah diangkat, di antaranya seni batik tulis dengan motif gebleg renteng. Beras petani Kulonprogo memenuhi kebutuhan warga local.
Produk kerajinan dan makanan dimasukkan ke toko modern (Tomira), semua merupakan upaya membela produk masyarakat Kulonprogo. "Itu semua budaya Kulonprogo," ujarnya.
Berbagai kesenian rakyat juga dipupuk. Seperti pagelaran rutin Sendratari Sugriwo-Subali di Gua Kiskendo, membuat senam angguk, menghidupkan olahraga tradisional Nglarak Blarak dan kesenian lain.
"Paling akhir program Bedah Menoreh, merupakan upaya mengangkat budaya Kulonprogo," lanjut Sudarta.
Pembangunan bandara dijadikan momentum kebangkitan Kulonprogo masuk Kawasan Strategis Pengembangan Borobudur. "Sehingga sangat layak Pak Hasto mendapat pengukuhan pakar bedah budaya," tandas anggota DPRD DIJ ini.
Hasto menyatakan bersyukur, gagasan dan ajakannya menjaga budaya mendapat sambutan positif. "Disamping melestarikan budaya, juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Hasto.
Dalam acara pengukuhan juga ditampilkan Wayang Koplak garapan Suryadi. Seniman serba bisa yang menguasai seni kriya, lukis, batik dan pedalangan.
Hasto sempat didaulat ikut mendalang. Hasto pun njantur dengan kalimat kocak. "Ki Suryadi yang berambut gondrong gagah pideksa ketingalipun. Namun yen dimatke kanyata gagah pideksa amargo diganjel bantal," kelakar Hasto. (tom/iwa/mar) Editor : Editor News