Menurut Ketua Panitia Wasdiyanta, untuk Maret ini, akan dilaksanakan tiga hari berturut-turut hingga tanggal 20. Menghadirkan 12 kelompok kesenian tradisi di Panggung Terbuka TBY.
"Program ini adalah konsistensi TBY. Terutama dalam mendukung dan mengapresiasi pelestari seni di setiap daerah. Upaya pelestarian harus diimbangi dengan penampilan di ruang terbuka. Bagi pelestari mereka mendapat suntikan semangat untuk terus melestarikan. Sedangkan bagi masyarakat umum sebagai penonton ada hiburan sekaligus pengetahuan," katanya, kemarin.
Dikatakan, setiap kesenian yang tampil memiliki ciri khas yang berbeda. Bahkan tidak menutup kemungkinan kesenian yang diusung merupakan ujung tombak wisata dan budaya pada tingkat desa hingga kabupaten.
"Jika ingin melihat detailnya bisa langsung ke daerah asal kesenian tersebut. Mereka tampil di TBY untuk membuka interaksi langsung antara pelaku seni dan masyarakat," tuturnya.
Menurutnya, dengan adanya program ini setiap kelompok mempunyai kesempatan untuk tampil. Kelompok-kelompok kesenian yang terpilih dalam program ini sendiri merupakan kearifan lokal.
"Selama ini kerap tampil dalam lingkup lingkungannya sendiri," ujarnya.
Wasdiyanta menambahkan program ini merupakan wahana menumbuhkan apresiasi. Karena dinamika saat ini membuat posisi kesenian tradisi harus bertarung secara terbuka dengan budaya asing. Sehingga kampanye pengenalan kesenian tradisi dapat diterapkan dengan pendekatan langsung ke masyarakat.
"Letak TBY di pusat kota sangat strategis untuk memberikan nuansa budaya. Apalagi program ini sudah berjalan secara konsisten selama tujuh tahun. Setiap bulan ada empat Grup kesenian yang tampil. Jadi total ada 48 grup kesenian dari lima kabupaten dan kota se DIJ hingga penghujung 2016," tandasnya. (dwi/dem/ong) Editor : Administrator